Pesona Gunung Lawu

            Dilema terjadi ketika memilih membeli tas atau naik gunung. Hmm, berhubung masa liburan panjang, apa boleh buat saya  memilih untuk pergi naik gunung. Keinginan saya naik gunung di luar Banten sangat tinggi, gimana nggak kepingin toh ditawarin teman saya ingin naik ke Gunung Lawu  perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur yang tingginya 3265 MDPL. Nah loh, ituken gunung tertinggi ke 6 di Jawa.
Baru pemula sudah diajak ke Gunung Lawu anti-mainstrem banget, biasaken kalau pemula nggak jauh-jauh paling juga Gunung Gede atau Pangrango. Dengan ikhlas saya menerima tawaran tersebut dengan senang hati, Jawa Timur loh haa. Tinggal minta restu orantua setelah beruding dengan orangtua akhirnya surat keputusan tersebut ditanda tangan, akhirnya saya direstui sama orantua.
            Langsung ajah, saya guling makan beling, ah dikira main debus kali. Walapun SK udah turun tapi duitnya nggak turun huft. Yasudah aku ora opo-opo, biarkanlah yang penting ridho orantua sudah dapet. Langsung ajah saya kontekin teman saya.
            “Hasby kayanya tiket harus beli cepet-cepet nih,” ngirim sms ke Hasby.
            “Oke dah, kayanya SK turun nih haa,” bales sms candanya.
            Karena teman saya membeli tiket 2 minggu keberangkatan. Katanya sih, takut nggak kebagian gitu lah. Yo wis kalau transportasi mah urasan Hasby tinggal kasih uangnya jah tiket pulang pergi hanya Rp110.000, karena kita berangkat hanya tiga orang jadi semuanya Rp350.000. Teman yang  lain siapin peralatan yang akan dibawa, betewe sayaken nggak punya alat-alat gunung, eitss untungnya ada OLX (ah jadi promosi tuh). Maksudnya alat-alatnya pinjem sama teman dirumah. So, teman dirumah saya kebanyakan sering naik jadi nggak terlalu sulit tinggal minjem ajah satu persatu haa.
            Nah, ketika saya buka FB iseng ngeliatin setatus nggak jelas gitu lah. Tiba-tiba ada satu teman saya bikin status “tujuh orang pendaki di Gunung Lawu hilang”. Waduh badan saya langsung sok ngeliatnya, karena penasaran langsung saya ngeliat beritanya dan ternyata benar 7 pendaki hilang. Soalnya kejadian tersebut H-5 keberangkatan, lalu saya hubungin teman saya kelanjutanya gimana.
            “Hasby udah ngeliat beritanya belum, 7 pendaki hilang di Gunung Lawu gimana tuh,” ngirim sms ke Hasby
            “Gue sih nggak takut, yang gue takutin jalannya ditutup buat dievakuasi gitu,” bales katanya.
            Yah, mau gimana lagi peristiwa tersebut tidak diduga-duga. Akhiranya Hasby menyarankan bila jalur pendaki Gungun Lawu ditutup terpaksa belok ke Gunung Sumbing kalau nggak sindoro tapi Sindoro katanya lagi kebaran hutan jadi dicoret dari daftar. Setelah selang beberapa hari tiba ada tag dari FB ternyata yang nge-tag teman saya. Ternyata berita 7 pendaki yang hilang itu sudah ketemu dengan selamat, saya bersyukur akhirnya ketemu juga jadinya jalurnya tidak ditutup dah. Mungkin menurut saya hambatan pertama.
            Nah hambatan kedua salah satu teman saya ternyata peralatannya belum siap semua segalnya ada diteman satunya. Lagi naik gunung juga katanya turunya pas H-1, waduh ada-ada ajeh nih cobaan, gumam saya dalam hati. Yo wis anggap ajah cobaan karena barang yang lain sudah ready tinggal kapten yang belum. Berhubung teman saya turun dihari itu jadi keberangkatan dipatokin jam 12, dan alhamdulilah temannya mendaki di Gunung Gede sudah sampai dirumah Hasby tanpa pikir panjang langsung packing cepat barang sudah terkumpul tiga tas, tas Hasby, Rizal, sama saya. Eitss, jangan seneng dulu hambatannya belum tuntas tiba-tiba ada sms dari Rizal.
            “Roy maaf  bilangin ke hasby gue nggak bisa ikut soalnya bapak gue lagi sakit nggak enak kalau ditinggalin, gue nya nggak tega jadinnya,” isi sms dari Rizal. Tiba saya sama Hasby lemes ngeliat sms tiba-tiba gitu.
Kata saya. “Oke, gue tunggu 10 menit kali ajah berubah pikiran,”.
“Kayanya keputusan gue udah bulet nggak bisa,” balesanya.
Badan yang tadinya semangat tiba-tiba lemes seketika huft, ini mungkin hambatan yang paling serius dari hambatan yang lain. Nggak mau bingung terpaksa dari pada tiket angus berangkatlah walapun berdua tetap dinikmatin. Akhirnya saya berdua berangkat menuju stasiun Serpong sampai stasiun Pasar Senin membeli tiket seharga Rp24.000. saya berangkat menuju stasiun Serpong sampai di Tanah Abang  jam 3 lewat lalu translit ke Pasar Senin, sebelum naik saya bertanya sama satpam ternyata bisa dari Tanah Abang ke Pasar Senin bisa. Upss, setelah naik denger-denger dari penumpang kereta tersebut bilang nggak turun di Kebayoran tapi stasiun selanjutnya.
Air keringat pun berjatuhan setelah kaget tidak turun di stasion Kebayoran tapi stasiun selanjutnya. Langsung turun lari dengan nafas ngos-ngosan nemuin satpam tersebut tanya.
“Pak kalau kereta arah ke Pasar Senin,” tanya Hasby yang mulai panic.
“Waduh nggak bisa masa, kalau nanti mas balik lagi naik kereta baru bisa, kalau mau naik ojek dari sini langsung ke Pasar Senin tapi nanti kena penalty kartu diambil,” kata petugas.
“Yaudahlah pak ambil ajah kartunya,”
 dan ternyata kartu yang tadi terkena pinlati, soalnya salah yah terpaksa kartu diambil satpam huftt. Dalam keadan yang mulai sok lalu nyari ojek atau bajai untuk menuju ke stasion Pasar Senin, “Bang ojek dari sini sampai Pasar Senin berapa,” tawar saya.
“25 lah,” ucap tukang ojek berambut putih.
Ditawar segitu saya dan Hasby pelan-pelan pergi tiba.
“Yudah 15 ribu nih,” kata tukang ojek bermotor metic.
setelah tawar menawar harga sama tukang ojek akhirnya mendapatkan harga yang cocok langsun caw menuju Pasar Senin.
Tak sia-sia setalah berlari-lari kesana kemari dengan keril yang lumayan berat hampir saja ketinggal untungnya 10 menit lagi. Duduk manis sambil menenangkan diri setelah sok plus kaget dikejar waktu akhirnya kesampean juga bisa naik kereta.

                                                     Stasion Solojebres    

Tutt ttutt tuuuutt teng jam 2  malam lewat, alhamdulilah akhirnya sampai distasiun Solojebres karena tadi perut yang mulai kruyukk bak cacing di perut demo. Setelah salat isya lanjut keluar dari stasiun mencari makan dan saya singgah di warung dekat stasiun. Entah lupa nama yang jaga di warung tersebut, saya memilih makan oseng telor sama gorengan serta teh manis anget menambah nikmat di malam hari. Eitss, ternyata dibagian Jawa makanan masih terjangkau saya makan oseng telur dan teh manis hangat hanya Rp5000 murah nyoo. Setelah bersantai beberapa menit dan bertanya-tanya kita langsung caw menuju bang joe disitu nunggu bis menuju terminal Tawangmangu. Karena jarak menuju Bang Joe hanya 10 menit terpaksa jalan, kali-kali menikmati jalan malam dikota solo huuu.
“Bi kalau Tangerang kaya gini enak kali adem,” kata saya sambil minum air putih.
“Enak kali betah kalau kaya gini betah kali haa,” candanya.
Setelah jalan 10 menit kita menunggu bis rukun sayur menuju ke terminal Tawangmangu. Karena baru jam 3 kita nunggu bis tersebut. Yups, tiba-tiba mobil bak berisi sayur-sayur itu berhenti pas tepat ditempat saya nunggu. Sopir tersbut menawarkan menuju terminal Tawangmangu, tawar menwarpun terjadi.
“Hayo sama saya mau ke terminal Tawangmangu cuman 30 ribu,” ucap sopir (24) asal Solo.
“Yah mas, 20 ribu ajah berdua,” tawar saya.
Tanpa lama-lama akhirnya sopir tukang sayur itupun setuju atas harga yang saya sebutkan. Keril taru dibak sambil naik dibelakang bak yuhuuu mantap. Explor kali ini mantap diperjalanan pagi hari itu disambut adzan subuh yang berkumandang menambah kenikmatan udara pagi dikota Solo. Pohon hijau dipinggir jalan menambah indah dengan dihiasi lampu kerlap kelip. Kita pun melewati taman pancasila ingin rasanya kesana tapi ah sudahlah, matapun yang tadi terasa berat setelah naik ke mobil malah nambah berat angin pagi yang pelan-pelan menggoda mata saya untuk tidur. Soalnya menuju terminal Tawangmangu sekitar ½ jam perjalanan, berhubung mobil yang saya naiki mobil sayur jadi berhenti dulu di pasar entah lupa namanya.
            Ketika keluar dari mobil untuk mencari bahan makanan disambut sapaan dari ibu-ibu pedagang yang berjualan dipinggir uh indahnya udara sejuk plus menampilkan wallpaper Gunung Lawu dikejauhan. Tak sabar diri saya untuk sampai ke sana huftt. Untuk pertama ketika saya ingin membeli sesuatu disambut sopan sama ibu pedagangnya kalau nggak salah namanya ibu rina sedikit bercakap-cakap sama sang ibu juga.
            “Mau naik Gunung Lawu? Dari mana asalnya,” sambut ibu rina berkerudung warna-warni.
            “Iya bu, dari Tangerang Banten,” kata saya.
            “Oh gubernurnya yang main film doel itu yah,” sambutnya.
            Tak begitula lama perbincangan kita karena melihat waktu yang menujukan jam 6, lagi pula barang belanjaan yang kita perlukan sudah terpenuhi. Beranjak ke mobil sayur karena sopirnya lagi makan pagi sayapun mencuri waktu untuk memejamkan mata sebentar. Yah, saking sebentarnya baru juga memejamkan mata tiba-tiba berangkat. Kitapun berangkat menuju terminal Tawangmangu, tak sabar rasanya. Selama perjalanan menuju terminal Tawangmangu saya dilihatkan pemandangan yang sangat indah hijaunya bukit dihiasi sawah yang subur dan hebatnya disetiap jalan menemui buah Stowberry mantap. Jalan yang berlika-liku menambah ketegangan diri saya, soalnya melihat kanan tebing kiri jurang mirip dipuncak walapun saya belum pernah ke puncak senggannya gambaranya hee. Matahari yang menyosong melihatkan embun pagi yang semakin dingin. Setelah menunggu sekitar 15 menit perjalana berliku-liku sayapun sampai ke tempat Terminal Tawangmangu jam 7.15 lewat.
            Sesampainya di terminal saya bergegas mencari mobil menuju Cemorosewu. Ketemu dengan mobil arah Cemorosewu seperti biasa tawar menawar harga dilakukan dengan mengeluarkan jurus tampak melas. Akhirnya yang tadinya Rp30.000 berdua jadi Rp25.000 berdua, langsung barang-barang dimasukan ke dalam mobil walapun didalam mobil semuanya rata-rata nenek huft. Saya dan Hasby cowoknya sopir satu ibarat ketimpah duren busuk. Iyah ajah, kalau isinya perempuan muda semumuranken enak diajak ngbrolnya. Lah ini, harus ngajak ngobrol nenek mana ngak ngerti bahasa Jawa Timur *pokoknya sedih kalau diceritain. Kali ini track menuju Cemorosewu menajak yang lumayan tinggi, sempet takut karena orang pribuminya sudah handal jadi saya biasa. Memang ketika diperjalanan nggak habis-habisnya dilihatkan pemandangan saya menuju Cemorosewu.
            Walapun hanya memajamkan mata sejenak. Akhirnya saya sampai dipintu menuju Gunung Lawu atau biasa bascamp Cemorosewu jam 08.03 sampai. Tadinya ingin mendaki lewat jalur Cemorokandang katanya landai enak berhubung kemarin ada kejadian plus ada cerita mistis disekitar jalur tersebut maka dari itu saya lewat jalur Cemorosewu yang lumayan menatang jalurnya haa.
            Ada Cerita Di Cemorosewu
            Setelah sampai dibascamp sayapun mulai packing barang mana saja tidak diperlukakan kitapun bertemu dengan kelompok yang juga sama ingin naik ke Gunung Lawu dari daerah Surabaya sekira 9 orang. Nah loh, ada barang yang lupa nesting (tempat masak) lumayan sedikit merepotkan plus menghambat perjalanan.
            “Waduh gimana nih?, nesting nggak ada bisa fatal, masak pakai apa coba,” tutur Hasby yang mulai kepanikan saat itu.
            “Lah gue nggak tau, ditempat pemijaman juga nggak ada buat nesting mah,” kata saya sambil packing tas. Sambut saya.”Oh iyah, diatasken ada warung kali ajah diatas ada rantanglah minimal,”
            Setelah mendengar pernyataan saya. Kitapun bergegas packing takut sampai puncak kemaleman akhirnya brang sudah ready. Upss, nanti dulu karena tadi sudah terburu sekarang perut yang mulai keroncongan belum makan pagi. Lalu masuk ke warung makan mesem nasi remas di Jawa Timur satu porsi nasi remes sekitar Rp5000 plus Rp2000 teh manis hangat. Ngobrol-ngobrol sebentar sambil menge waktu start jam berapa sampai puncak jam berapa. Karena target saya finish di pos 5 Sindang Drajat, berbincang yang lumayan lama dan makanpun selesai. Sebelum berangkat kita laporan dibascamp sekalian registrasi masuknya Rp10.000 perorang.
            Teng tereng terenggg waktunya mendaki saat yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Sebelum mulai mendaki kitapun berdoa demi keselamatan bersama semoga tidak ada kendala lancer samapai tujuan. Bismillahirahmanirahim, doa dalam hati. Kitapun berangkat start jam 09.12 dengan menyiapkan air 1 liter 2 botol perorang mantap. Perjalanan kita mulai masuk kedalam hutan karena kali pertama saya memakai keril yang lumayan 1 kilo beras. Badan yang memeng kaget seketika terasa sakit dipinggang bahu.
            “Tenang tuh, namanya badan loe lagi beradaptasi sama keril,” celotehnya.
            “Ahh masa, tapi kayanay iyah sih,”
            Perjalan mendaki kali ini ditemani ceramahnya KH Zaenuddin MZ, sejuknya luar dalam semakin lama tanjatan satu persaru mulai bermunculan membuat langkah saya sedikit melambat karena beban tas keril yang lumayan berat tapi tak seberapa berat semangat saya untuk sampai ke puncak. Kabut yang mulai turun menghiasi perjalanan suara burungpun ikut serta. Kita akan menuju pos pertama jaraknya hanya 45 menit. Di pos 1 terdapat shelter yang biasa digunakan untuk beristirahat. Nah, di pos 1 ada warung tapi nggak setiap hari buka. Akhirnya kita istirahat sejenak karena beban yang lumayan berat, lima menit istirahat, melihat dari arah belakang mulai berdatangan para pendaki yang menyusul.
            Sambil istirahat saya membuat droping air untuk mengisi tenaga diperjalanan. Setelah istirahat sejenak kita mulai berangkata lagi menuju Pos II lumayan jauh, waktu dari pos I sampai Pos II sekitar 90 menit atau paling lama 2 jam 30 menit. Woow, selain itu juga treknya lumayan menatang berisi batu-batu dan jalanannya menanjak. Waduh siap-siap otot kaki ini mah, kita pun jalan menuju Pos II dengan semestinya. Saking jalan yang menanjak kita sering disusul oleh pendaki yang lain, mungkin saking lambatnya kita berjalanan huftt. Dalam perjalanan menuju Pos II kita disaksikan dengan pemandangan yang indah dari ketinggian 2000 MDPL. Menyaksikan rumah penduduk yang amat kecil menambah keindahan, selain itu juga batu-batu besar yang membuat saya aggak takut ketika diperjalanan.  

                                                                      (foto saat di Batu Jago)
Setelah berjalan setengah jam kita bertemu Watu Jago yang mirip dengan ayam jago. Sejenak berhenti untuk mengabadikannya, beeh indahnya ketika saya hendak berfoto diatasnya. Melihat bukit kecil yang indah diselimuti awan tebal, lalu saya meneruskan kembali menuju Pos II. Dalam perjalanan kita sering melihat Burung Jalak disetiap jalan seperti petunjuk jalan gitu. Menurut artikel pendaki yang say baca memang burung tersebut sering banget dilihat mendaki hampir semua pendaki melihatnya. Akhirnya setelah perjalanan yang lumayan jauh kita sampai di Pos II sejenak meregangkan otot-otot badan yang pegal. Di Pos II ini saya bertemu dengan pendaki yang juga istirahat ada yang mau turun ataupun naik, sedikti berbincang dengan pendaki lain ada yang dari Bogor, Surabaya, dan Bogor. Beginilah enaknya jadi pendaki mempunyai teman banyak selain teman banyak makanannya juga hee.
Setelah berbincang dengan pendaki lain, dan badan sudah lumayan cukup tenaga. Lalu kita teruskan lagi perjalanan menuju Pos III sekitar 60 menit, lumayan deket. Trek yang lumayan menjak sampai merangkakpun kita lakukan dengan tebing yang menyeramkan menambah semangat saya untuk sampai kesana. Karena kita sudah diketinggian 2800 MDPL, kabut yang lumayan tebal menambah ketegangan kita menutupi jalan dengan perlahan-lahan saya tapaki batu yang mirip dengan tangga. Saya selalu membaca doa aggar tidak ada kendala, soalnya target saya harus sampai ke Pos 5 karena kita sudah mulai kehabisan air. Mungkin itu jalan satu-satunya untuk mendapatkan air hhuft, dengan perut yang mulai keroncongan muka yang mulai puncat.
“Roy gimana masih kuat jalanannya,” ujar Hasby dengan ngos-ngosannya.
“Tenang masih kuat Bi, lagian dikit lagi Pos 5,” jawab saya yang mulai sempoyongan.
Akhirnya kita bertemu Pos III disini kabut dan angin mulai kencang merasa menusuk ke tubuh. Sejenak istirahat 5 menit. Dengan persedian air yang minim, akhirnya kita meminta sedikit air kepada pendaki yang hendak turun ke bawah. Mata saya aggak berkedip sebentar melihat sesosok wanita yang cantik berkerudung dengan carier yang dibawannya, sedang mengusap air keringat hendak menetes. Ala ma, sosok wanita itu membuat saya bertanya-tanya dari manakah dia datang. Dengan menampangkan wajah yang tadinya lemes jadi semangat, setelah dia memulai bertanya dan saya inget awal dia bertanya dimana tempat tinggal saya dll. Lumayan lama saya berbincang ternyata wanita Solo berkerudung abu-abu itu membuat saya semangat untuk sampai ke puncak sambil teriak I LOVE YOU, tapi itu hanya mimpi soalnya disampingnya cowoknya hufft.
Dan akhirnya diapun pergi dengan rombongannya. Saya  Sedikit berbincang juga dengan pendaki ingin turun tapi ada sesuatu yang mengagumkan ketika saya berbicang dengan satu pendaki asal Bogor ini.
“Oh yah, bang pasukannya kemana lagi, ko. Sendirian ajah bawa carrier,” Tanya Hasby sambil menengag segelas air bearasa sirsak tersbut.
“Saya cuman sendiri bang, kaga bawa pasukan. Ini juga ngikut ajah sama pendaki yang lain,” ujar Andy yang tinggal di Bogor ini.
“Serius,” Kaget Hasby.
            Ternyata ada yang lebih ekstrim dari pada kita, berbisik kepada si Hasby. Walapun begitu kita kasih jempol mendaki Gunung Lawu sendiri, sekira istirahat yang cukup mulai lah. Kita berangkat menuju Pos 4 sekira 60-90 menit, kitapun berangkat waktu sudah menunjukan jam 16.05. Mudah-mudah sampai ke Pos 5 sebelum malam, lagi-lagi tanjakan batu yang berbelok-belok dengan angin yang lumayan mengoyahkan tubuh kita berdua. Dengan erat saya berpegang dengan akar yang menjulur disetapak jalan, angin yang mulai beraroma belerang ini sudah menandakan kita sedikit lagi sampai di Pos 4, karena saya melihat tanda salah satunya ditandai dengan adanya pegangan besi yang berada disamping kanan dan kiri jalur pendakian.
            Dan bener saja kita sampai di Pos 4. Di sini tidak shelter, hanya tanah datar berukuran sempit yang cukup untuk 1-2 tenda saja. Kitapun istirahat sambil membuat droping air, ekstra joss dicampur dengan susu putih. Dengan maksud membuat energy ditubuh semakin kuat bekerja, disini kita tidak begitu lama langsung berangkat menuju Pos 5. Karena dari Pos 4- Pos 5 sekira 30 menit. Alhamdulilah untuk jalur pendakian aggak landai dengan trek tanah yang nyaman di kaki, hari yang semakin gelap menambah langkah kaki untuk segera sampai ke Pos 5 angin yang terus menghepas ke tubuh saya membuat langkah perlaha karena debu yang berhempasan membuat mata kelilipan debu dengan langkah perlahan aggar tidak terperosot ke bawah bisa fatal.
Keindahan Sindang Drajat diatas Awan
            Akhirnya target kita sampai juga dengan waktu yang pas jam 17.00 WIT. Di Pos 5 kita mulai mendirikan kemah dan segera mengambil air untuk memaksa minuman hangat sekaligus makan. Dingin yang benar-benar menusuk ketubuh dengan switter dilapisi baju sarung kaki berlapis dua tidak bisa menahan dinginya. Untugnya di Pos 5 ini kita bersandingan dengan satu warung yang buka, karena pendaki yang lain berkemah di Sindang Derajatnya. Malam pun tiba angin yang begitu kecang memhuat goyang tenda yang saya tiduri ditambah kaki yang mulai buka hingga naik ke tubuh yang lain. Dengan memasak teh manis, naget, dan mie. Membuat hangat tubuh saya yang mulai mengigil, ketika saya mengintip dipintu tenda keatas langit. Subhanallah baru kali ini saya melihat bintang begitu dekat dengan saya, beribu bintang berkelap kelip seraya menyambut kedatangan saya. Terasa alam ingin menunjukan keindahan kepada manusia dibumi.
            Karena hanya melihat sekejap saja, waktu itu angin yang begitu kencang serta dinginya membuat tenda terhempas dan meneteskan air akibat kabut naik keatas. Akhirnya dimalam yang indah itu, saya lewatkan dengan begitu saja. Sempat ada rasa menyesal tapi apa boleh buat demi menyelamtkan nyawa lebih baik. Toh, besok pagi saya akan melihat inti dari segala perjalanan yang saya lalui akan terbayar sudah.
Ketika saya mengerakan kaki sebelah yang dilapisi sarung kaki. Kaget tak karuan, kedua kaki saya hampir membeku se-mata kaki lebih mulai menjulur keatas. Karena waktu sekitar jam 4 pagi, saya bangun memang waktu itu saya akui dingin minta ampun sampai kedua kaki saya membeku hingga  diolesi minyak GPU sebanyaknya, itupun tak terasa panas. Perlahan-lahan jari tangan saya mulai kaku dengan mengerak-gerakan mungkin lebih baik. Karena waktu masih pagi sayapun melanjutkan tidur saya hingga jam setengah enam bangun.
 “Arghh..arghh...arghh, Hasby bangun bi, udah pagi kita ke puncak yuuk,” teriak saya membangunkan Hasby sambil mengigil sangat, melebihi ketika saya ke Bandung pokoknya.
“Yaudah, masak air panas buat seduh teh, soalnya itu penting,” ujar Hasby dengan gaya malas didalam sleeping bag.
Sayapun menyiapkan air panas untuk membuat teh. ketika saya menoleh ke belakang didalam tenda kelihatan sinar warna orange menembus tenda yang berwarna biru. Hati saya sudah tak sabar untuk melihat sinar orange yang keluar dari ufuk timur, sayapun bergegas memasak air panas sekaligus teh panasnya. Dan kitapun menyantap teh manis ala kadarnya entah itu manis atau pahit sudah terasa tak sabar melihat sinar orange.
Terengg.. ketika saya selesai meminum teh panas, kaki yang masih terasa kaku. Saya paksa jalan keluar. Sereeeetttt, saat perlahan membuka pintu tenda. Menoleh kebelakang tenda dengan kaki tertatih, sekali lagi saya katakan Subhanallah kuasa Allah sang maha pencipta begitu indah. Sinar orange perlahan keluar walapun posisi saya belum dipuncak tapi terasa kelihatan sekali keindahan mataharinya, karena tidak ingin mengambil resiko untuk kepuncak dalam keadaan yang tidak baik. Lebih baik saya rasakan ditempat tenda, menunggu badan beradaptasi ketik di pagi hari yang dingin banget.
Sekira jam 7.15, kita bergegas menuju inti dari pendaki yaitu puncak. Karena badan mulai beradaptasi kitapun berangkat menuju puncak. Langkah sayapun dimulai lagi di pagi itu, kali ini traknya lumayan landai tapi ketika menoleh sebelah kanan jurang yang curam meneror kita. Bukan itu saja, kitapun semakin mendaki semakin dikit oksigen yang dihirup membuat hidung terasa sakit. Ditambah dinginnya membuat muka saya terasa membeku sulit digerakan walapun saat itu matahari mulai naik.
Tapi tangtangan itu sebanding dengan keindahannya, disetiap langkah saya menuju puncak bunga-bunga Edlwis ditepi jalan menghiasi perjalanan saya. Dari atas saya melihat rumah-rumah penduduk seperti miniatur lucu pokoknya. Sudah setengah perjalanan saya berhenti sejenak ke untuk mengambil mata air di Sindang Derajat tapi saat mengambil air, ternyata air keruh dan kotor terpaksa ditinggal. Terpaksa melanjutkan perjalanan, ketika diperjalanan saya dilihatkan banyak tempat petilasan yang lumayan menyeramkan.
Matahari yang semakin meninggi aroma belerang dari tebing besar itu membuat hidung saya terasa sakit karena oksigen yang minim. Jalan yang mulai menaik sesekali saya tak habis-habisnya menoleh ke kana-kiri hamparan tebing dan bukit yang indah diselimuti kabut diatasnya. Hampir setengah jam perjalanan saya mendaki mulai terlihat kibaran merah putih yang menjulang tinggi. Semakin tak sabar untuk sampai kepuncak, keringat yang mulai mentes membasahi selayar kebanggan Banten.
Dan akhirnya, Woooww…woooww…wooo, teriak saya tak karuan saking senangnya. Sampai juga diinti mendaki puncak Gunung Lawu akhirnya saya taklukan. Senang saya pun tak terbendung tak percaya saya bisa sampai ke puncak, Yang katanya Gunung terseram ketiga di Jawa. Saya duduk dibawah tuggu sambil memandangin batas awan yang membuat saya termenung sejenak melihat keindahan alamnya. Serasa ingin teriak melepas kesenangan dalam diri telah menikmati alam yang indah ini.
Matahari yang mulai meranjak ke titik paling atas tapi kenapa tubuh saya tidak hendak pergi begitu saja. Rasanya ingin lama duduk dan memandangi alam diatas Gunun Lawu, moment yang sangat langka ini. Saya abadikan dengan berfoto ria, walapun hanya memakai kamera anggap ajah jelek tapi kebahagian saya sudah cukup terbayarkan banget. Banyak pelajaran yang didapat dari kenalan dengan pendaki lain sampai bertemu pendaki yang lebih ekstrim dari kita, yaitu pendaki dari Bogor hamsyong dah. Sekira 1 jam saya berdiri dipuncak Gunung Lawu, buat saya ini perjalanan pertama yang mengesankan.
“Gimana Roy sudah puas melihat puncaknya,” kata Hasby sambil menpuk bahu saya.
“Entar Bi, dikit lagi nih, indah banget soalnya,” jawab saya sambil memandangi gunung disebelahnya.
Karena matahari yang pelan-pelan mulai menembus jaket, kita bergegas menuju warung Mbak Iyem. Ini dia yang saya tunggu, rasa penasaran akhirnya terbayar juga. Sempat tak percaya setelah saya melihat diartikel tapi yang saya liat ternyata kenayataan, akhirnya perjalananan saya komplit dah. Untuk menuju ke warung Mbak Iyem tidak terlalu jauh sekira 15 menit dari puncaknya.
Nah, setelah sampai saya langsung melihat dan membeli segelas teh manis panas. Mata saya melirik sana sini ternyata apa yang ditulis diartikel tersbut katanya warungnya lumayan besar bisa menampung sekira 50 orang. Kembali ke teh, dikira saya tuh teh rasanya bakal kaya teh biasanya tapi pas diseruput, serrrtt serttt serttt, begitu suaranya sampai-sampai tetangga sebelah sampai bangun.
“Gile Bi tehnya enak banget, sumpah dah,” ucap Roy sambil meniup teh ditangannya.
“Iyah tah,” jawab Hasby mimik muka yang penasaran gitu.
Dan jawabannya pun sama enak banget tehnya, sambil istirahat sejenak didalam warung Mbak Iyem. Panas yang mulai merasuki warung Mbak Iyem membuat panas semakin mengucur keringat dari tubuh saya. Setelah istirahat lumayan lama kita langsung bergegas menuju tenda huftt. Rasanya hari itu serasa nyaman dan tentram banget dah, bermain dialam bebas apalagi dengan pemandangan yang lumayan indah.
Langkah kaki serasa berat untuk meninggalkan puncak Gunung Lawu yang masih menyimpan beribu keindahannya, setiap jalur menuju tenda tak henti-henntinya mengabadikan moment yang begitu indah. Sampai memory penuh dengan foto-foto saya sendiri hee. Kambut yang semakin naik keatas mengiringi kepergian saya dari puncak Lawu.
Tengg jam 10 pagi, setelah makan lalu kita beres-beres menuju pulang. Tadinya pulangnya ingin lewat jalur Cemorow Kandang cuman nggak mau ngambil resiko takut kemalaman. Jadi kita lewat jalur Cemorow Sewu yang lumayan deketlah, karena persedian air habis kita stock air 2 botol isinya 1 liter. Dan kitapun berpamitan dengan puncak Lawu dengan sejuta keindahan dan kehororannya.
Biasanya kalau pulang itu cepet tapi ternyata benar apa yang dirasakan saya, turun jam 10.15 sampai dibascame sekitar jam 17.20 sampai. Sejenak beristirahat dibascame untuk menginap semalam soalnya kita nunggu mobil tiba, karena jam 5 sore mobil sudah tidak ada untuk menuju terminal Tawangmangu. Ketika malam ternyata nggak cuman diatas yang dingin tapi dibascame juga dinginnya minta ampun sampai menyentuh airpun dingin banget. Pakainnya sampai berlapis bukan karena banyak nyamuknya tapi dinginnya itu loh. Walapun begitu badan yang terasa capek sehingga terlelap dalam malam yang dingin itu.
Saking dinginnya saya bangun jam 5 pagi, masya Allah dinginnya minta ampun. Sambil menyalahkan kompor untuk menghangatkan badan dan memasak teh manis buatan sendiri. Yah, walapun rasanya begitulah anda bisa banyangkan. Tengg jam 07.00 pagi sudah bergegas menuju terminal Tawangmangu dan melanjutkan ke stasiun Solo Balapan dalam perjalanan menuju stasiun tak pernah bosan saya meilhat buah-buahan dan sayuran, yang menghiasi perjalanan saya. Dari Tawangmangu menuju stasiun sekitar 20 menit perjalanan kalau tidak macet.
Pada saat saya naik bis menuju stasiun sempat kaget ongkos yang diberkan kepada kenek sama halnya dengan naik angkot dari nominal 2 ribu rupiah sampai puluhan ribu, didaerah jawa sini transportasi cukup terjangkau tidak terlalu mahal. Dalam perjalanan saya melewati kampus 11 maret di Solo dan Alun-alun Solo, tadinya ingin mampir cuman memang sudah kelihatan letih terpaksa lanjut terus haa. Sesampai stasiun kita langsung cuss menuju stasiun  Lampuyangan Jogjakarta, panas yang semakin membakar kepala ternyata tidak di Tangerang ajah yang panas tapi di Jogja juga panas. Sekira jam 16.00 sore saya berangkat menuju pasar Senin sebelum menuju pulang di Jogja merasakan makanan khas nasi kucing maklum baru pertama ngerasain haa.
Lumayan semalam dikereta jadi bekal kalau kelaperan dikereta, masalahnya 10 jam perjalanan menuju Pasar Senin. Sekira jam 1 kita sampai disana, apessnya sesampai disana kereta sudah nggak beroprasi lagi batasnya jam 10 malam. Apa boleh buat, tidur distasiunpun dilakukan menunggu besok menuju stasiun Serpong. Walapun begitu ini jadi pengalaman yang paling mengesankan sangat mengesankan ada pelajaran yang saya dapat. Tapi yang lebih mengesankan adalah rekor 5 hari tanpa mandi haa.
Okelah, itulah sedikit cerita perjalanan saya di Gunung Lawu terseram ke 3 di Jawa dan seremnya lagi naik cuman berdua dan lebih seram lagi dua-duannya Jomblo, memang perjalanan kali begitu seram melebih film yang ada di TV haa.


You May Also Like

0 komentar