Curug Gendang


            Dihari sabtu dibulan muda saya dan kawan-kawan ekspresi jelong-jelong lagi, kali ini masih edisi alam broo. Alam yang tersembunyi yang katanya indah buanget gitu, kalau orang Serang atau Anyer dan sekitarnya pasti tau wisata air terjun Curug Gendang. Itu loh, tempatnya dekat Pantai, Carita Pandeglang. Wah kalau nggak tau kayanya kurang komplit jadi orang Serang dan sekitarnya. Hmm, nggak jauh ko, cuman nahan pegel ajah sih (pasti kebayang, giman rasanya). Tenang ajah, pegelnya pasti kebayar sama keindahan air terjunnya sama suasannya yang bikin kamu betah dah, Arghh jadi gereget deh.



            Oke, jangan ngiler dulu. Kembali ke cerita.
            “Untuk bulan September ini kita mau kemana nih, yang punya opsi silahkan usulin,” tanya Bang Hilal kepada Kru Ekspresi.
            Seraya para Kru pun berbondong menyebutkan tempat yang bakal dijajah. Akhirnya terkumpul opsi dari Kru-X dari wisata Tanjung Lesung, bendungan, taman Mangruve, Curug Gendang, dan Sawarna, itulah kandidatnya. Ketika dari ke 5 wisata tersebut terpilih lah Curu Gendang jadi pemenangnya. Sebenernya sih ngtrip ke Curug Gendang bukan pilihan saya. Yah karena, kalah vote sama yang lain yasudahlah mungkin pas kampanyenya nggak ada serangan fajar (Upsst, ngapain kesitu-situ). Walapun begitu tetep ngedukun ajeh dah kita mah, cek orang sunda mah kitu. Padahal mah ay pengen banget ke Tanjung Lesung . So,dari pada ribut malah entarnya jadi wisata tandingan dah.
            Hmm, Entah makin kesini keseruan serasa berkurang gitu. Coz, beberapa orang saja yang ikut trip, mungkin bisa ke hitung sama jari. Walapun begitu tetap keseruan kawan-kawan ekspresi tak terbendung. Eitss, mau tau nggak bro?  Kali ini ceritanya sobat Ekspresi belum pernah kesana. Wualah pie toh mas, waduh kayanya emang benar-benar negbolang dah. So, kalau begini caranya kudu meminta petunjuk sama mbah google, yang katanya bisa mencari semua informasi termasuk mantan-mantan yang hilang (jiahh, itu google apa kontak jodoh).
            Next, Seperti biasa coyy. Kita berangkat jam 08.00 kumpul di Radar Banten begitu kata kapten. Keesokan harinya sebelum berangkat berbicang sebentar sambil mencari tentang mantan-mantan yang hilang. Jiahh salah alamat, maksudnya informasi tentang keberadaan Curug yang tersembunyi bagaikan upil. Karena saya sudah menerawang dari mbah google menemukan alamatnya, dengan senang kitapun berangkat menuju Curug Gendang yang indah buanget.
Nah untuk sampai kesana sangat mudah ko, tinggal kirim lewat JNE insya Allah nyampe. Eitss jangan dibawa serius, kita lewat jalur Paninjauan (Rawa Danau). Katanya sih, biar adem gitu soalnya lewat Cilegon tuh panasnya udah kaya dipadang pasir mungkin hampir mirip kaya Bekasi, upsst. Maka dari itu kita lewat situ Sekaligus mampir di Panijauan, lumayan loh tempatnya indah buat para Jomblo yang kesepian, saking sepinya lalet ngerubungin haa.

                                                                (foto saat di tugu pertempuran Cijentul)
Eitss, ada yang terlewat dari perjalanan kita, ternyata jalan yang saya sering lewati ada kisah bersejarah dimasa lampau yaitu tugu Pertarungan Cijentul yang bersembunyi dipinggir jalan dengan kondisi tidak terawatt mungkin saking tidak terawatnya. Sedikit flashback tentang tugu Cijentul, ternyata dahulunya wilayah tersebut menjadi tempat pertempuran antara TNI AD Indonesia dengan Belanda pada tahun 1945 hingga 1952. Nah, nama Cijentul sendiri menurut artikel yang saya baca ternyata tadinya nama desa diwilayah tersebut tapi sekarang diganti menjadi Cilowong yang terkenal dengan pembuangan sampahnya.
Oke mungkin itu cerita singkatnya, kalau mau lebih silahkan beli buku sejarahnya. Lanjut ke perjalanan, alhamdulilah  matahari pagi di hari sabtu itu lumayan bersahabat mendukung kita untuk menyusuri Taman Wisata Alam Carita. Walapun harus menempuh waktu 3 jam perjalanan, rasanya bakalan capek berat. Coz, semalam cuman bisa menikmati 2 jam istirahat, gara-gara penyakit insom yang menyerang tiba-tiba huftt. Akibatnya, saat dibonceng kepala saya rada oleng kaya orang ngedugem gtu dah. Itu pulangnya, tapi berangkatnya nggak kaya gitu juga.
Setelah melewati jalan panijauan, dari kejauhan aroma pantai laut yang mulai merasuki sela-sela hidung saya terasa. Dan ternyata bener laut biru bergelombang dengan goyanganya mengoda saya untuk berenang dipanasnya matahari yang membakar kulit. Tapi niat saya untuk berenang di pantai kayanya ditahan dulu, nanti ajah dilampiasin di air terjun Curug Gendang. Setelah berjalan selama 2 jam, kita mampir dululah sambil merenggangkan badan sejenak di warung pinggir pantai Sauran. Yah, lumayan pemandangan ombak yang mengiurkan dipanasnya hari itu. Dengan menenggak air putih yang dingin serasa perlahan menghilangkan rasa haus dalam tubuh.

                                                             (saat beristirahat diwarung pinggir pantai)
Disela-sela istirahat ada salah satu orang Kru bertanya alamat Curug Gendang dimana.
“Pak, mau nanya kira-kira Curug Gendang masih lama nggak,” kata salah satu Kru sambil membawa segelas kopi panas.
“Hmm, kira 7 kilometer lagi kayanya, sekira setengah jam lah sampai,” jawab bapak penjual warung ini. Ketika mendengar 7 kilometer lagi, para Kru sedikit menelan ludah dengan mimik sedikit kaget mendengarnya.
Sekira 10 menit terasa cukup untuk istirahat, kayanya harus meneruskan perjalanan karena waktu yang semakin panas dari terik matahari yang semakin mencolok. Hembusan angin membawa saya tuk segera sampai ke tempat wisata Curug yang mengalir deras seperti perjalanan saya yang semakin cepat. Setelah melewati berbagai pantai sampai pantai terakhir, belum menemukan plank yang menunjukan wisata Curug Gendang, karena mbah google tidak terlalu komplit alamatnya. Mulai cara B, tanya sana-sini kaya seles nawarin barang.
“Misi Pak, numpang nanya kalau Curug Gendang dimana yah,” tanya saya kepada bapak satpam yang sedang duduk. Jawab satpam, “Oh yang,” sambil menggerakan tangan keatas (Jiah iklan sampo lifeboy jadinya).
Oke skip, ternyata letak Curug Gendang ini sedikit nyempil disela-sela gank, di ujung Desa Sambolo. Setelah perbatasan rumah penduduk dan hutan, lalu mulai perjalanan menuju wisata Curug Gendang. Di sepanjang jalan kita dimanjakan dengan pepohonan yang rimbun, keanekaragam faunapun bisa ditemukan.
Lumayan untuk sampai kesana menempuh jarak 4 KM. Dengan jalan yang berbatu dan tebing-tebing disisi jalan. Tak menyurutkan tekad kita, akhirnya sampai ditempat tujuan Curug Gendang.

Eits, perjalanan belum selasai teranyata, butuh satu kilometer lagi untuk sampai kesana. Untuk sampai kesana kita tinggal mengikuti jalan setapak, karena motor hanya sampai parkiran. Untuk masuk ke wisata Curug Gendang kita hanya membayar parkir Rp15.000 permotor. Kita bisa menikmati wisata Bendungan, Cadas Ngampar, dan Curug Gendang.
Setengah perjalanan pun kita lalui, suara gemuruh air dari sisi tebing pun sudah memanggil saya untuk melihatnya. Wuaahh, gumam saya dalam hati. Ternyata tempatnya bro, indah banget tanpa basabasi sayapun langsung merasakan air jernih Curug Gendang.

                                                                             (foto saat di Curug Gendang)
“HUAHHHH..HUAAHH,” triak saya.
Ini baru namanya jalan-jalan bro, akhirnya terbayar sudah perjalanan yang sangat jauh bagaikan ingin menuju Bekasi gitulah. Moment yang indahpun tak sampai disia-siakan setetespun, mungkin hampir setengah jam. Memanjakan badan di dalam air yang sangat sejuk ini, dihari yang panas memang cocok berendam. Setelah memanjakan badan waktunya cuss menuju Home, puas bermain air yang jernih.

Kitapun bergegas pulang dengan badan yang mulai letih dan lesu, kini harus melewati perjalanan jauh lagi menuju rumah huftt. Seperti biasa kalau jalan-jalan begini wara wiri ke rumah kru dan kali ini rumah Ade Setiwan jadi sasaran. Sekitar 10 menit istirahat, lalu lanjut menuju home nya masing-masing. Sungguh perjalannan yang luar biasa, alam memang menyimpan keindahannya hanya orang tertenu yang bisa menikmati keindahannya. Sungguh bersyukur atas kuasa Allah yang telah menciptakan bumi sesempurna mungkin. Oke.

You May Also Like

0 komentar