Moli Menyebarkan Virus Literasi di Banten Selatan
Moli kembali beraksi setalah kemarin ke Kabupaten Tangerang. Kali ini perjalanan kedua ke Banten Selatan. Kita akan singgah di Desa Warung Banten yang menempuh jarak 312 Km. Ini jarak terjauh Moli. Kita berangkat sekira jam 9 pagi, perjalanan pertama akan singgah di Balai Kota Pandeglang untuk memberikan 700 buku sumbangan dari KPK ke tujuh TBM yang tersebar di Pandeglang. Di terima Lansung oleh Pak Lulu, Ketua Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Pandeglang.
Kedatangan
kita di Balai Kota Pandeglang tidak terlalu lama, karena mengejar waktu untuk
meneruskan perjalanan jauh ke Warung Banten. Di Balai Kota Pandeglang
teman-teman TBM Pandeglang pun ikut tour literasi Moli ke Warung Banten,
pasukan pun bertambah dengan hadirnya mobil Gerakan Indonesia Membaca (GIM).
Kita pun melanjutkan perjalanan menuju Malingping, di sana kita akan di sambut
oleh genk motor Racing Ninja Sletan (RNS), Super Motor, dan lain-lainnya.
Panas
yang semakin menyengat sampai ke ubun-ubun, membuat keringat keluar membasahi
bajuku. Ini merupakan perjuangan literasi yang cukup melelahkan tetapi kita
tetap semangat untuk mengatarkan buku ke TBM yang berada di Malingping, Bayah,
dan Warung Banten. Untuk sampai kesana kita melewati jalan Saketi, dari sini (jalan
saketi) kita tembus-tembus di Malimping. Perjalan melalui jalur Saketi,
terbilang nyaman tentram, sepanjang jalan jarang melihat lubang-lubang.
Sehingga laju kendaraan dengan kecepatan 40 sampai 60 Km perjam, bisa kita
nikmati.
Sekira
dua tahun yang lalu, aku juga melewati jalan Saketi. Dulu kondisinya lebih
parah, di sepanjang jalan masih berbatu dan licin. Tapi sekarang, jalur yang
sama aku lewati bisa dinikamti dengan nyaman. Sekira dua jam, kita terus
berjalan melewati hutan, perbukitan, dan rumah-rumah penduduk.
Dari
pinggir jalan terdengar suara ombak dari kejauhan. Seketikaku menengok
kesebelah kanan, terlihat pantai berwarna biru dengan ombak yang besar menerjang
karang. Di panas yang terik, aku terus melajukan motor sambil menikmati angin
pantai. Dari kejauhan tiba-tiba, sekumpulan motor melambai-lambai ke arah kita.
Eh, ternyata itu genk motor ninja yang sudah berkumpul dan menunggu kita di
villa dekat pinggir pantai.
Di
sana kita akan berdakwah tentang literasi melalui motor sekaligus pemberian 100
buku ke TBM Tunas Cendekiawan dari Wanasalam. Dalam ceramahnya Kang Firman
mengajak untuk bergabung untuk ikut serta dalam kegiatan literasi ini,
memberikan pencerahan bahwasanya genk motor di padangan masyarakat terlihat
negatif seperti melakukan balap-balapan liar ataupun nongkrong nggak jelas.
Nah, Kang Firman memberikan solusinya dengan tepat yakni memberikan image masyarakat bahwasanya komunitas
motor bukan hanya balap-bapalan. Maka dari itu, kita isi dengan nilai-nilai
edukasi yakni dengan literasi. Menstribusikan buku-buku ke TBM-TBM dan
melakukan kegiatan sosial lainnya.
Kehadiran
Moli pun memberikan aura positif di kalangan genk motor di Malingping-Bayah.
Guna membantu kelangsungan dunia literasi di Banten Selatan. Karena Banten
Selatan ini terbilang jauh dari kata layak di lihat dari dunia literasinya.
Butaaksara setiap tahunnya terus bertambah, akibat akses buku yang jarang
sampai ke tempat tujuan.
Walapun
sudah berdiri TBM-TBM yang tersebar di sekitar Banten Selatan. Tetapi TBM
itupun belum cukup disebabkan bukunya tidak pernah bertambah dan lagi-lagi
disebabkan oleh akses buku yang sulit karena medan jalan yang sangat susah.
Maka dari itu, genk motor yang sekarang berkumpul, di ketuk hatinya untuk
melakukan kegiatan literasi ini, khususnya di daerah Banten Selatan.
Kita
pun tak berlama-lama akan melanjutkan perjalanan kembali menuju TBM An-Najah di
Bayah. Sepanjang jalanku melihat pemandangan pantai selatan yang cukup
mengagumkan, terlihat deburan ombaknya yang menabrak karang. Matahari yang
mulai bergeser ke arah barat, aku terus mengas kudabesi bergadengan dengan
motor-motor lain. Pasukan kita pun bertambah genk motor yang tadi berdiskusi
dengan kita pun ikut ke Warung Banten.
Perjalanan
semakin seru, suara sirine yang berada di depan mengiri kita para Motor
Literasi. Bagaikan sedang di kawal, asik banget dah. Untungnya akses jalan
semakin bagus, tidak seperti dua tahun yang lalu, Saya melalui jalan yang sama
dengan keadaan jalan berkerikil dan berdebu tapi sekarang sudah berlapiskan
beton.
Sejam
mengendarai motor kita mulai memasuki Bayah mulai ramai dengan lalu lalang
kendaraan, tapi sayang kenikmatan kita terhambat oleh jembatan-jembatan yang
sedang diperbaiki. Tak hanya jembatan, memasuki Bayah mulai jalan bergelombang
dan berdebu, kita harus menutup mulut dan mata agar tidak terkena dengan
debu-debu.
Tidak
jauh dari jalan rusak kita diarahkan ke TBM An-Najah yang berada di pinggir
jalan. Kita pun sampai di tempat tujuan TBM An-Najah. Sesampai di TBM, kita disuguhkan
dengan ubi, es kelapa, dan makanan lainnya. Lumayan makananya yang suguhkan
menghilangkan capek. Dengan menikmati es kelapa, kita disambut oleh Pak Budi
selaku pengurus TBM An-Najah.
Kita
pun berbincang-bincang dengan pengurus TBM An-Najah. Seperti biasa yang
dikeluhkan adalah faktor kekurangan buku. Kalau dilihat memang TBM An-Najah,
dilihat dari luar banyak buku-buku yang sudah kusam. Bahkan sampai di makan
rayap, dan warna lembarannya berubah menjadi kuning. Ini menjadi PR kita
bersama para pegiat literasi untuk membantu menstribusikan buku ke TBM, kata
ini yang sering diulang oleh Kang Dc Aryadi. Kitapun memberikan 100 buku dari KPK kepada TBM An-Najah.
Ketika
berbincang-bincang dari pintu gerbang datang tiga orang yang masuk, ternyata
tamu dari staf Kemdikbud di bidang butaksara. Ia pun memberikan sambutan,
katanya kegiatan yang dilakukan Motor Literasi ini harus diapresiasi, dengan
menemupuh perjalanan jauh untuk mengunjungi dan memberikan buku untuk TBM yang
berada di Banten Selatan ini. Pasukan kita pun bertambah kehadiran staf
Kemdikbud yang juga akan ikut mengunjungi Warung Banten.
Matahari
yang mulai tenggelam ke arah barat, pertemuan kita di TBM An-Najah harus disudahi,
sebab harus melanjutkan perjalanan menuju Warung Banten. Untuk sampai ke Warung
Banten kita harus menempuh waktu sekira satu jam perjalanan. Sepertinya sampai
di Warung Banten malam, gumamku dalam hati. Kita terus mengas kudabesi, kali
ini jalan yang kita lalui mulai berkelok-kelok dan tanjatan. Luar biasa sekali,
untung saja jalannya tidak bergelombang.
Kita
mulai memasuki hutan, terdengar suara-suara hewan malam pun saling bersautan
serai sedang berkomunikasi. Aku pun harus menurunkan dan menaikan gigi satu dan
dua, karena di sisi sebelah kiri terlihat seperti jurang. Terbilang ngeri
sekali, tanpa pembatas jalan. Memang harus sangat berhati-hati, kita sedang
melalui bukit. Udara dingin pun menyelimuti perjalanan kita, aku pun mulai merasakan
dingin di sela-sela jari tangan.
Tiba
di turunan terkahir kita sudah sampai di tempat tujuan, aku melihat ada gapura
yang terbuat dari kayu yang di cat berwarna putih dan merah bergambarkan
seorang pahlawan. Aku kira sudah sampai, ternyata kita harus masuk turun ke
bawah. Ketika aku mulai menurunkan motor perlahan-lahan. Aku mengarahkan lampu
motor kedepan, terlihat jalan berbatu nan terjal dan juga sisi jalan kiri-kanan
kebun.
Malam
itu, aku merasa detak jantung begitu kencang dan sedikit was-was. Dengan
mengucapkan asma Allah, aku terus perlahan-lahan merayap menurunkan motor. Ku
genggam rem motor dengan sekencang-kencangnya, andaikan rem yang aku genggam
terlepas, habislah sudah. Dengan kesabaran, akhirnya aku sampai di TBM Kuli
Maca yang berada di Kampung Cibadak. Kita pun disambut dengan baik bak seperti
pejabat yang sedang berkunjung. Haa
Berbagai
Literasi di Kakolotan Adat Cibadak
Sesampainya
kita di sana, langsung disuguhkan dengan makan-makanan tradisional khas Adat
Kakolotan seperti gula merah, ubi, dan lain-lain. Sampai di Kampung Cibadak
sekitar setengah delapan. Badan yang terasa lelah di semua lini dari atas
sampai bawah kaki. Dengan rebahan di dalam rumah adat kasepuhan yang berlantaikan
kayu-kayu.
Di
sana kita seperti biasa berbincang-bincang dengan Kepala Desa Warung Banten Pak
Ruhandi dan Kasepuhan Kakolotan Kampung Cibadak. Perbincangan dengan Kades
cukup menarik, ia menceritakan tentang bagaimana bisa berdirinya TBM Kuli Maca
sampai dunia literasi tumbuh begitu pesat di Kakolotan Adat Cibadak. Menurutku
bukan pekerjaan mudah untuk menumbuhkan literasi yang di dalamnya masih
memiliki aura pekat aturan adat. Tetapi hal itu tidak terjadi di Warung Banten,
dengan semangat yang kuat Pak Ruhandi dan relawan yang membantunya dapat
menumbuhkan literasi di Kampung Kakolotan Adat Cibadak.
Berawal
dari TBM Kuli Maca inilah tumbuh literasi, sehubung dengan visi dan misi Pak
Kades salah satunya adalah mencerdaskan. Melalui TBM inilah di mulai. Walapun sebelum
menjabat menjadi Kades sudah melakukan kegiatan seperti ini, setalah menjadi
kegiatan ini lalu dilanjutkan. Dahulu sempat tidak disetujui oleh Kasepuhan
Warung Banten, karena tidak ada dalam aturan adat. Tetapi dengan menyakini
bahwa ini adalah kegiatan positif, maka dengan menyakini para Kasepuhan,
sehingga disetujuilah kegiatan tersebut.
Kuli
Maca sendiri yang diambil dari bahasa sunda yang artinya bekerja membaca ini,
maksudnya pekerjaan membaca adalah kalau sehabis bekerja itu mendapatkan uang,
kalau Kuli Maca kita mendapatkan ilmu pengatahuan dari membaca tersebut. Seperti
yang dikatakan Kasepuahan Wikanta, bahwasanya hasil dari baca, bukan hanya di
simpen di otak tetapi dihasilkan dengan praktek. Jadilah TBM Kuli Maca yang
didirikan pada tanggal 3 Juli 2014.
Seiring
waktu TBM ini mulai menyebarkan virus membaca dari sekitar Desa Warung Banten
dengan cara berkeliling dan membuka lapak di rumah-rumah warga. Dan kegiatan
ini diterima oleh warga Kampung Cibadak sendiri, terus mendukung kegiatan
seperti ini. Walapun ada segelintir orang yang tidak pro dengan kegiatan ini.
Lambat laun, tumbuh literasi selain membaca yakni literasi budaya, yang dimana anak
muda Kampung Cibadak regenerasi permainan musik tradisional seperti aklung,
gegendek, tengkong. Selain musik tradisional, Pak Ruhandi juga mengajarkan
untuk mencintai makanan-makanan lokal atau tradisional.
Ini
pertama kalinya aku bisa bertemu dengan Pak Ruhandi yang berjuang dalam
mencerdaskan kampung melalui TBM Kuli Maca. Literasi bukan hanya membaca tetapi
banyak bagian-bagian berbuatan literasi seperti literasi membaca, budaya,
teknologi, bahkan lingkungan. Di Kampung Cibadak ini melakukan literasi
membaca, budaya, dan teknologi.
Malam
itupun perbincangan kita di tutup dengan makan-makan tradisional. Merasakan makanan
tutut dan tumpeng di dalamnya berisikan berbagai lauk. Malam itu, aku lahap
memakan makanan yang disediakan oleh Pak Ruhandi. Hampir makanan yang disedikan
belum pernah aku rasakan di rumah. Ini menjadi pengalaman luar biasa.
Keesokan
paginya sekira jam 8, dari bawah rumah adat terdengar suara alat musik. Ketika melihat lebih dekat, kata warga sekitar ini alat musik
adat tradisional Kakolotan Adat Warung Banten seperti angklung, gegendek,
tengkong. Pemainnya rata-rata dari orangtua. Kehadiran Moli di Kampung Cibadak
disambut sangat meriah dengan menghadirkan alat-alat musik tradisional
Kakolotan Adat Cibadak. Sungguh luar biasa sekali, walapun di era moderan ini.
Kakolotan Adat Cibadak ini terus mempertahankan adatnya dengan sebaik-baiknya.
Dan
perjalanan kita sampai di sini, sekira jam 12. Berangkat pulang menuju Serang,
dengan mendapatkan oleh-oleh ilmu pengatahuan dari Kampung Cibadak ini. Bagaimana
mengelolah desa dengan baik dan juga bisa mempertahankan adat dengan membuat
regenerasi, jangan sampai punah atau tercampur dengan budaya di luar.







0 komentar