Pulau Lima Banyak Spot Foto yang Indah
Banten memang kaya akan spot wisata
untuk liburan, banyak pilihan tempat wisata alam dari curug, gunung, pantai,
pulau, sampai Baduy. Banten bisa dibilang
surganya wisata, banyak spot yang cocok liburan bareng keluarga maupun teman. Liburan
lebaran tahun 2017, kamu Liburan ke mana? Aku kasih recommended
liburan di Banten kayanya cocok deh buat kamu.
Nah, liburan kali ini aku akan berbagi cerita saat berwisata ke Pulau Lima
di Kaseman. Untuk sampai ke Pulau Lima, kita menempuh
sekira 15 menit dari Serang sampai di Pelabuhan Karangantu. Berangkat sekira
pukul 08.10 WIB sampai di Pelabuhan pukul 09.01 WIB. Sesampainya di Pelabuhan
Karangantu kami membeli beberapa kilo ikan dan
cumi untuk bakaran di Pulau Lima.
“Di sini tempat penjualan ikan yang
masih seger dan murah,” ujar Imam sambil berjalan menuju tempat pelalangan
ikan.
“Hmmm gitu,” jawabku dengan menganggukan
kepala.
Baner saja, berbagai ikan di tempat
pelelang ikan terbilang murah dan juga masih segar
ikannya. Kami pun memilih-milih ikan yang cocok untuk dibakar.
Terpilihlah ikan kue dan cumi-cumi. Hmmm, sepertinya kami akan makan enak, gumamku dalam hati sambil melihat-lihat ikan.
Setelah berdebat harga dengan pedagang pelelangan ikan, akhirnya dengan uang Rp. 100.000, kami mendapatkan ikan yang lumayan banyak. Yeeeh
Untuk budget, kami iuran sekira Rp75.000, perorang. Dengan uang Rp75.000,
kami bisa menikmati keindahan alam Pulau Lima
sambil bakar ikan di pinggir pantai. Setelah membeli ikan kami
menuju perahu yang bersadar
di dermaga, satu persatu kami menaiki perahu yang cukup mengangkut orang sekira
20 orang. Suara mesin mulai bergemuru diringi dengan music
dangdut, perahu perlahan mulai keluar dari dermaga. Dari atas kapal aku bisa menikmati pemandangan laut yang
terhampar luas, dari kejauhan aku dapat melihat pabrik-pabrik yang berada di
Cilegon dan melihat pulau-pulau seperti pulau 4, 3, dan pulau tak berpenghuni.
Beberapa menit perjalanan, aku
melihat jembatan dermaga tempat perahu untuk bersandar dan juga 3 homestay berbentuk rumah panggung. Di
Pulau Lima menyediakan homestay bagi pengunjung yang ingin bermalam di pulau, untuk pengujung
yang ingin bermalam di Pulau Lima di tarif seharga Rp300.000 perorang.
Perahu kami pun bersandar di dermaga. Panas yang mulai
menembus sela-sela baju, menusuk-nusuk kulit, aku
bergegas berteduh di gazebo yang berada di pinggir pantai.
“Wooww, indah yah,” ujar temanku
saat berjalan di dermaga menuju gazebo.
“Yoi, bagus banget,” timpal temanku.
Sekarang banyak perubahan di Pulau
Lima, beberapa tahun lalu aku pernah menginjakan kaki di Pulau Lima
perubahannya cukup drastis. Banyak warung-waung yang berjualan dipinggiran pantai dan
juga gazebo. Sebelumnya kosong tanpa warung dan juga gazebo, hanya ada 3 homstey
perdiri tegak. Pikirku Pulau Lima sudah banyak di
kunjungi karena memang tempat indah
dan air lautnya tenang. Sebab air pantai di sekitar pulau tidak begitu
besar ombaknya.
Sesampainya kami di Pulau Lima, aku melihat
pengunjung masih berdatangan ke Pulau Lima walapun tidak terlalu banyak. Sengaja kami memilih liburan di hari kerja. Sebab, kata Imam pemandu rombongan, saat liburan lebaran
Pulau Lima hampir sama seperti Pasar
Rau membeludak pengunjungnya. Untuk menghidarkan itu semua, aku
memilih liburan saat orang masuk kerja, gumamku dalam
hati. Sebelum berenang, kami beriffing terlebih dahulu untuk memberitahu kegiatan
di Pulau Lima kepada kawan-kawan.
“Terimakasih kawan-kawan kita sudah
sampai di Pulau Lima, mari kita nikmati pulaunya. Setelah itu, agenda selanjutnya
yang kita lakukan di pulau, dari jam 10 sampai jam 11 kita berenang, setelah
itu di lanjut dengan makan siang, abis itu kita free deh,” ucapku saat
memberikan informasi tentang kegiatan kita di Pulau Lima.
“Lebih enak nanti abis salat dan
makan, kita muter-muter pulau,” sambung Imam.
“Boleh juga tuh,” ujar anak-anak.
Kami pun bergegas untuk mengganti baju untuk
merasakan air laut Pulau Lima. Sinar matahari yang cetar mebahana perlahan-lahan mulai membakar kulitku, walapun
berpanas ria tidak menjadi penghalang untuk menikmati air
laut. Walapun aku sering pergi melihat laut tapi baru ini aku menikmati air laut lagi. Yah, sekira setahun
dan dua tahun yang lalu. Siang itu pun kami puaskan dengan berenang di Pulau Lima. Air ombak di sekitar Pulau Lima
terbilang tenang saat siang, bila sore ombak mulai berayun-ayunan walapun tidak
terlalu besar.
Setangah jam kami menikamati air lautnya, berefek perut
keroncongan. Kami berbagi tugas ada yang menyalahkan api, memilah
ikan, dan memberisihkan ikan. Aku bertugas untuk membersihkan cumi. Ketika membersihkan cumi, Imam dengan aku bingung yang mana, yang harus
dibersihkan.
“Kira-kira, yang mana nih yang
dibersihkan?” tanya Imam sambil membolak balik cumi.
“Bersih tinatanya ajah kali,”
jawabku
“Yaudah tintanya ajah,”
Jujur saja aku paling bingung kalau
membersihkan cumi, ketika aku mencoba membersihkan cumi dari tintanya, kepala dan badanya
menjadi terputus.
“Mam, jadinya begini,” kataku sambil
mengunjukan kepala cumi dan badanya yang terputus.
“Waduh, jangan sampai terputus,”
jawab Imam menahan tawa.
Aku pun tertawa melihat kelakukanku melihat
cumi yang dibersihkan badan dan kepala terputus.Setahuku saat ibu memasak cumi,
badan dan kepalanya tidak terpisah masih utuh. Sepertinya butuh pembelajaran
khusus dengan ibuku, curhatku dalam hati sambil mengeluarkan tinta cumi.
Setelah selesai membersihkan cumi tersebut langsung di jepitkan di pemangang.
Matahari tepat di atas kepalaku. Siang itupun panasnya
semakin menjadi-jadi, mulai menusuk-nusuk punggunku saat sedang mengipas-ngipas
panggangan ikan dengan kardus bekas yang
aku temukan di bawah gazebo. Bergegas aku langsung lompat ke gazebo.
Wangi dari panggangan ikan mulai terbawa angin
laut.
“Hmmm, udah mulai ke cium nih,
wanginya,” ungkap temanku.
Muka-muka lapar pun sudah terlihat
dari wajah teman-temanku, seperti tak sabar ingin mengerogoti ikan bakar. Setengah jam
berpanas-panas ria, akhirnya kami bisa menikmati bakar ikan walapun hanya sambal, ikan
bakar, kerupung, dan lalap timun, berasa nikmat tiada tara. Dengan lahapnya
teman-temanku memakan ikan bakar dan cumi yang rada gosok dikit.
Saat kami sedang makan, pengunjung mulai berdatangan
dua sampai tiga kapal yang singgah di dermaga. Pengunjung yang
berdatangan kebanyakan adalah keluarga dan anak-anak remaja
dengan pasangannya. Sampai aku makan selesai kapal-kapal terus berdatangan,
padahal ini sudah masuk kerja tapi masih ada orang yang liburan. Memang Pulau
Lima ini cocok banget untuk keluarga, apalagi bagi anak-anak bisa di pantau
dengan mudah.
Selesai makan. Sejenak kami istirahat untuk salat setelah itu dilanjutkan explore Pulau
Lima. Menurut Imam, di Pulau Lima ada sebuah kuburan di tengah-tengah hutan,
tidak di ketahui itu kuburan siapa. Tetapi menurut orang yang berada di Pulau
Lima hanya kuburan orang biasa. Cukup menyeramkan juga, di sebuah pulau yang
sekira 3,5 hektar ini ada kuburannya.
Kami mulai menyusuri dari pinggir
pantai, kami masuk ke dalam hutan yang tidak terlalu rimbun, berapa meter kami masuk
pemandangan di dalam hutan cukup menyeramkan saat aku melihat ada pagar yang
mengeliling di dalamnaya ada batu nisa berwarna biru. Setelah
melihat kuburan, lanjut menyusuri kebelakang pulau dai
belakang banyak karang-karang sebesar
batu kali. Imam sebagai gauide memberikan
pengatahuan kami tentang tumbuh-tumbuhan yang ada di Pulau
Lima, seperti pohon kaktus, mangrove, kangkung liar, dan lain-lain.
Pulau yang terbentuk campuran tanah dan pasir ini banyak ditubuhi tumbuhan
yang biasa kami lihat di darat, lumayan cukup
menyenangkan bisa mengelilingi Pulau Lima. Aku melihat di sekeliling pulau pemandangannya cukup indah, cocok untuk spot foto dan
banyak engel yang bisa diambil, apalagi dengan pasanganmu. hiihii




0 komentar