Pesan dari Ayah


Selepas pengajian sore. Luki berjalan arah pulang melewati sela-sela gang rumah warga dengan santai, menikmati sore yang tenang besertakan angin sepoi-sepoi. Dengan muka ceria selepas pulang mengaji seperti menyimpan keceriaan itu kepada ayahnya, ada sesuatu yang ingin ia ceritakan nanti di atas bale depan rumahnya, biasa tempat Luki dan ayah bercerita.

Tiba-tiba saat Luki sedang lengah, dari arah belakang dengan cepat seorang anak laki-laki berlari mengambil kopiah dengan mudah yang di genggaman Luki.
Luki kaget
“Hey, kembalikan kopiahku,” teriak Luki sambil mengejar Aldi. Ia salah satu teman ngaji Luki yang terkenal dengan bandel dan jailnya minta ampun nakalnya. Semua anak yang berada di tempat mengaji hampir semuanya dikerjai oleh Aldi.
Aldi berhenti sejenak, lalu berkata. “Ambil sini, kalau bisa,” tantang Aldi, lalu ia berlari lagi.
Dengan perasaan kesal dengan napas tersengal-sengal, Luki terus mengejarnya. Saat itu Luki dalam keadaan kurang fit. Tiba-tiba Aldi berhenti di depan kandang ayam samping rumah warga. Saat Luki mendekatinya. Aldi tersenyum kepada Luki, seperti ingin melakukan sesuatu. Benar saja, tampak kurang puas atas kejailan yang Aldi perbuat kepada Luki. Lalu Aldi melemparkan kopiah milik Luki ke atas kandang ayam yang tingginya sekira 2 meter itu.
“Tuh, ambil, kalau bisa,” ledek Aldi kepada Luki sambil tertawa terbahak-bahak. Setelah puas menjaili Luki, ia pergi menuju rumah, tanpa bertanggung jawab atas perbuatannya.
            “Awas, aku bilangin Ayahku,” teriak Luki sambil menahan sedih.
            “Bilangin ajah, kalau berani,” sahut Aldi yang mulai menghilang.
Luki yang bingung apa yang harus di perbuat? Karena waktu itu usianya 10 tahun. Luki yang bingung melihat ke kanan-kiri tak ada orang. Akhirnya memilih pulang ke rumah dengan raut wajah sedih. Berlari menuju rumah sambil menahan sedih. Setiba di rumah, Luki langsung menghampiri Ayah yang sedang mengetik di ruang tamu.
Ckrekk, suara pintu rumah terbuka.
Mendengar suara pintu terbuka, ayah menoleh kebelakang dengan sedikit menurunkan kacamatanya. "Eh, anak Ayah udah pulang.” Luki mendekati Ayah dengan wajah sedih yang tak tertahan, akhirnya air mata dalam kelopak mata Luki tumpah di hadapan Ayah.
“Hey, kenapa kamu? Kok, pulang-pulang nangis,” tanya Ayah sambil mendaratkan tangannya ke bahu Luki.
“Heu...heu...Heuuu,” tangis Luki
“Hey, kenapa? Jawab,” ucap Ayah lembut sambil mengelus kepala Luki bagian belakang.
“Heuu... Heuu..., Ko…piahku di lempar ke atas kandang ayam, Yah, sama Aldi,” ungkap Luki tersendat tangisan.
“Aihh, Si Aldi lagi ajah. Yaudah di mana kopiahmu?” Tanya Ayah sedikit kesal. Aldi memang sering menjaili Luki, dan sering dimarahi oleh Ayah. Tapi kali ini sepertinya Ayah tidak terlalu murka oleh Aldi.
Aldi pun memberitahu di mana letak kopiah di buang. Dengan sigap Ayah langsung mengeluarkan motor Honda Astrea Grand berwarna hitam bergaris hijau di bagian bodi samping kiri dan kanan dari pelataran rumah.
“Hayo, buruan naik,” ujar Ayah dengan raut wajah kesal.
Ayah menghidupkan motornya dan berjalan melewati gang sempit belakang musholah, beberapa kelokan pun dilewati. Sesampai di tempat kopiah Luki di buang. Ayah memberhentikan motor Hondanya.
“Di sini tempatnya, tunggu di sini, nanti Ayah yang ngambil,” ayah bergegas turun dari motor.
“Iyh, Yah. Heuu...Heuu...,”
Ayah langsung mengambil rating di bawah pohon rambutan. Sebab, kandang ayamnya cukup tinggi harus menggunakan ranting. Karena letak kopiah Luki berada di samping sebelah kanan mepet dengan tembok.
 Pak Rusdi yang melihat ayah Luki sedang mengambil sesuatu, merasa heran. Ia mendekati Ayah. “Lagi ngapain, Sur?” tanya Pak Rusdi heran.
“Biasa nih, anak, kopiahnya di sangkutin ke atas kandang ayam, sama si Aldi,” jawab ayah sambil mengakali kopiah Luki di atap kandang ayam dengan ranting.
“Oh, gitu. Emang badung banget bocah tuh,” Pak Rusdi ikut-ikut kesal sama Aldi.
“Emang, si Aldi mah gitu,”
Ayah pun mendapatkan kopiahnya.
“Nih, kopiahnya, jangan nangis.” Ayah memberikan kopiah kepada Luki.
“Yaudah, Pak. Saya balik dulu.”
“Iya, dah.”
Ayah memutarkan motornya. Lalu meninggalkan kandang ayam itu. Selama perjalanan pulang ayah berpesan kepada Luki, “Kalau salah harus di lawan, bukan berarti dengan fisik tetapi lawan dengan sesuatu yang kau punya misalkan kau kan jago lari, Luki tantang sama Aldi kalau Aldi kalah bilang jangan ganggu lagi,  nggak usah menangis." Pesan ayah.
Keesokan harinya Luki melewati jalan yang kemarin. Seperti biasa tidak kapok, lagi-lagi Si Bengal Aldi melancarkan niat jahatnya kepada Luki, dengan cepat ia menarik kopiah yang dipakai oleh Luki, kali ini Aldi sedikit kasar kepada Luki hingga mengoreskan luka baret di bagian samping akibat kuku Aldi yang tajam.
            ”Ughh, kau kasar sekali, Aldi.” Luki mengusap luka yang tergores oleh tangan Aldi. Bodo.
            Kesabaran Luki sudah tak tertahan, Luki yang di sekolahnya terkenal dengan lari maraton mengalahkan siswa-siswa di sekolahya, kini ia akan coba mengejar Aldi yang bandel itu. Melihat kelakukan Aldi yang semakin membuat emosi, Luki ingat dengan pesan yang ayah bilang. Harus dilawan, gumamnya dalam hati.
            Luki dan Aldi berjarak dua meter, kita saling tatap-tatapan bak seperti koboi yang siap menembakan peluru.
            Aldi memanas-manasi Luki
            "Sini, kalau kau mau kopiahmu kembali, kejar aku,” ledek Aldi yang semakin menjadi-jadi.
            Tanpa aba-aba Luki langsung mengejar Aldi dengan emosinya yang semakin membara. Aldi mulai meliuk-liuk mencari jalan agar tidak terkejar oleh Luki, saat menoleh kebelakang Luki semakin dekat tanpa disadari Aldi salah dalam melangkah kaki kanannya terpeleset hingga terperosot ke jalan, kopiah yang Aldi pegang terlempar ke kubangan kecil yang tergenang air.
            Srettt, kaki Aldi terperosot kedalam got yang tidak terlalu dalam.
            Luki dengan sigap mendekati Aldi.
            “Aldi, kamu tidak apa-apa?”
            Aldi menoleh kepada Luki dengan muka melas bercampur sedih. “Aduhh, sakit sekali lututku.” Aldi meluruskan kakinya. Terlihat merah darah keluar dari lututnya becampur lumpur.
”Waduh darahnya semakin banyak, Al.” Luki panik.
            Ia bergegas mengotong Aldi ke rumahnya dan bertemu dengan ibu yang sedang duduk santai di depan rumah.
            “Lah, anak gue ngapa tuh lecet-lecet lututnya, Ki,” ibunya menghampiri Aldi
            “Tadi Mpok, lari-larian terus kepeleset jadinya begitu.” Luki menjelaskan kepada ibu Aldi.
            Ibu Aldi bukannya sedih malah sebaliknya. “Makannya jangan bandel jadi orang, jadi begitu tuh, sini diobati,” ibu Aldi membopong ke dalam rumah. “Eh, makasih yah, Luk udah anterin anak Mpok, sono bilang makasih,” ucap ibunya Aldi.
Makasih yah Luk,” ujar Aldi meringis kesakitan.
            Iyah, sama-sama, Mpok, sama-sama, Aldi.” Luki pun bergegas pulang ke rumahnya.
            Selepas kejadian itu Luki pun bercerita dengan ayahnya tentang peristiwa yang terjadi tadi sore, ayah hanya tertawa senang mendengarkan anaknya menceritakan.
            Nah, gitukan balesanya, itu balesan orang bandel.” Nasehat Ayah kepada Luki.




You May Also Like

1 komentar