Warna Warni Pantai Sawarna
Hey Guys, kali ini sahabat X-presi jelong-jelong ke Pantai Sawarna itu loh, walapun terhambat beberapa minggu gara-gara acara yang enggak jelas gitu. Akhirnya Sabtu tanggal 29 November 2015 sahabat X-presi cuss ke Pantai Sawarna, sekaligus menanti penasaran saya untuk explor ke Banten Selatan yang memang menjadi parwisata terkenal di Banten ini. Walapun untuk sampai ke obyek wisata tersebut memakan waktu yang begitu lama sekira 8 jam perjalanan kalau rute dari arah Serang, enggak kebayang kalau rutenya dari arah Tangerang, Jakarta dan sekitarnya.*udah jangan di bayangin
Waktu itu saya berangkat sekira jam 9.10 WIB, seperti biasa kita kumpul di markas tercinta Graha Pena Radar Banten lantai 5, sayangnya setiap kali jelong-jelong tidak pernah komplit pasti ada yang tidak ikut tapi untuk selanjutnya semoga ikut semua, akhirnya kita hanya empat motor. Namun begitu, tetap kecerian Kru-X tidak pernah redup selalu ada canda tawa di tambah hari yang cerah menambah semangat kita untuk segera memulai perjalanan dan ini jadi pengalaman pertama explor Banten dengan menempuh jarak 147 KM. Broo
Nah, rute yang dilalui kita dari arah Serang yang memang tempat kita berkumpul, lalu melewati Palima Serang Banten dari palima ambil arah ke Baros dan Pandeglang lalu kita akan masuk Kota Pandeglang nanti melewati tugu Pandeglang belok kiri karena kita lewat arah Maliping bisa juga lewat arah Saketi dan Labuan, jarak dari Serang menuju Maliping itu sekira 3 jam perjalanan. Kalau sudah sampai Malimping melewati alun-alun Malimping ambil arah kanan menuju Bayah. Sekitar 2.5 Km, ada pertigaan lagi, lurus agak ke kiri kea rah Bayah/Sawarna dari sini kita di sepanjang perjalanan Malingping-Bayah kita disuguhkan view pantai-pantai menarik diantaranya pantai Bagedur. Pantai Cihara, Pantai Cibobos dan banyak lagi.
Upsst, sesampainya di jalan menuju Malimping kita di hadang oleh guyuran hujan yang tidak terlalu lebat setalah itu terang lagi. Eh, tak cukup sampai di situ lagi-lagi hujan lebat mengguyur jalan menuju Malimping-Bayah lebat sekali sampai menyerap ke dalam baju dan jaket yang saya pakai, akhirnya kita berteduh sejenak saking lebatnya di halaman rumah warga Bayah. Hujan yang semakin lebat waktu yang kian berputar tak sadar ketika melihat jam tangan sudah menujukan jam setengah empat sore, karena kita takut sampai di hutan panjangnya sudah gelap.
Suara petir mewarnai hujan lebat di waktu itu, datang seorang nenek berbaju merah dengan tangan bersedakep seperti orang kedinginan, lalu salah satu teman meminta izini untuk berteduh di alas depan rumahnya.
“Bu, izin yah numpang berteduh,” ucap Bang Hilal
“Yah, sok manga, naik ajah keatas,” kata nenek tersebut
“Makasih bu,” jawabnya
Dengan penasaran saya ingin bertanya kepada nenek tersebut untuk menuju Bayah-Sawarna itu beberapa ajah.
“Bu, kira-kira dari sini ke Bayah sawarna itu berapa jam lagi yah,” tanya saya
“Yah, sekira 1 atau 2 jam lah,” jawabnya.
“Oh gitu,”
Karena kita nggak mau sampai di hutan panjang sudah gelap, maka kita lawan hujan lebat tersebut dengan sehelai plastik dan jas hujan, cukup untuk menutupi derasnya hujan. Pada saat itu kita bagaikan pahlawan yang menerjang para penjahat, bedanya dengan kita, melawan derasnya hujan ditambah dengan mobil besar bak transformer. Hujan yang tadinya gelap kini beranganti rintik-rintik, kami pun terus menarik gas motor dengan perlahan untuk mengejar waktu tuk sampai Pantai Sawarna.
Saat melewati jembatan yang akan masuk hutan panjang tiba-tiba saya melambatkan motor, dengan mata kaget betapa seremnya waktu menyebrangi jembatan tersebut. Air yang mengalir menuju pantai terlihat kotor dibarengin sampah, sehingga yang dilihat pantai menjadi kotor. Sangat miris sekali, padahal dipinggir pantai ada wisata yaitu Pantai Manuk tapi berubah serem ketika tercampur dengan air kotor dan setelah ditelaah arah air tersebut ternyata dari pabrik semen, sungguh miris. Gumam dalam hati.
Kita pun melanjutkan perjalanan melewati hutan panjang, hujan yang tak henti-hentinya menguyur perjalanan kita mulai masuk ke dalam hutan panjang di sambut dengan suara bintang. Senang dan takut pun bercampur dengan semangat saya untuk segara bertemu Pantai Sawarna. Setengah jam kita melawati hutan panjang, akhirnya dari atas kita melihat pemandangan yang luar biasa dimana desiran ombak menyambut kita untuk segera menikamtinya. Tidak menunggu lama kita langsung cuss menuju penginapan.
Nah Sob, untuk masuk ke Pantai Sawarna kita membayar Rp5000,. Kita menuju penginapan yang sudah dipesan. Pantai Sawarna juga menyediakan tempat penginapan untuk para wisatawan harga yang ditawarkan bervariasi dari harga Rp250.000-Rp700.000K. Sesampainya di penginapan kita langsung menuju Pantai Ciantir dengan dihiasi gelapnya sore itu, hati yang senang tidak tertampung lagi dilampiaskan dengan triak-triakan melepaskan kebahagiaan. Selama perjalanan 8 jam itu akhirnya terbayarkan.
Nah, rute yang dilalui kita dari arah Serang yang memang tempat kita berkumpul, lalu melewati Palima Serang Banten dari palima ambil arah ke Baros dan Pandeglang lalu kita akan masuk Kota Pandeglang nanti melewati tugu Pandeglang belok kiri karena kita lewat arah Maliping bisa juga lewat arah Saketi dan Labuan, jarak dari Serang menuju Maliping itu sekira 3 jam perjalanan. Kalau sudah sampai Malimping melewati alun-alun Malimping ambil arah kanan menuju Bayah. Sekitar 2.5 Km, ada pertigaan lagi, lurus agak ke kiri kea rah Bayah/Sawarna dari sini kita di sepanjang perjalanan Malingping-Bayah kita disuguhkan view pantai-pantai menarik diantaranya pantai Bagedur. Pantai Cihara, Pantai Cibobos dan banyak lagi.
Upsst, sesampainya di jalan menuju Malimping kita di hadang oleh guyuran hujan yang tidak terlalu lebat setalah itu terang lagi. Eh, tak cukup sampai di situ lagi-lagi hujan lebat mengguyur jalan menuju Malimping-Bayah lebat sekali sampai menyerap ke dalam baju dan jaket yang saya pakai, akhirnya kita berteduh sejenak saking lebatnya di halaman rumah warga Bayah. Hujan yang semakin lebat waktu yang kian berputar tak sadar ketika melihat jam tangan sudah menujukan jam setengah empat sore, karena kita takut sampai di hutan panjangnya sudah gelap.
Suara petir mewarnai hujan lebat di waktu itu, datang seorang nenek berbaju merah dengan tangan bersedakep seperti orang kedinginan, lalu salah satu teman meminta izini untuk berteduh di alas depan rumahnya.
“Bu, izin yah numpang berteduh,” ucap Bang Hilal
“Yah, sok manga, naik ajah keatas,” kata nenek tersebut
“Makasih bu,” jawabnya
Dengan penasaran saya ingin bertanya kepada nenek tersebut untuk menuju Bayah-Sawarna itu beberapa ajah.
“Bu, kira-kira dari sini ke Bayah sawarna itu berapa jam lagi yah,” tanya saya
“Yah, sekira 1 atau 2 jam lah,” jawabnya.
“Oh gitu,”
Karena kita nggak mau sampai di hutan panjang sudah gelap, maka kita lawan hujan lebat tersebut dengan sehelai plastik dan jas hujan, cukup untuk menutupi derasnya hujan. Pada saat itu kita bagaikan pahlawan yang menerjang para penjahat, bedanya dengan kita, melawan derasnya hujan ditambah dengan mobil besar bak transformer. Hujan yang tadinya gelap kini beranganti rintik-rintik, kami pun terus menarik gas motor dengan perlahan untuk mengejar waktu tuk sampai Pantai Sawarna.
Saat melewati jembatan yang akan masuk hutan panjang tiba-tiba saya melambatkan motor, dengan mata kaget betapa seremnya waktu menyebrangi jembatan tersebut. Air yang mengalir menuju pantai terlihat kotor dibarengin sampah, sehingga yang dilihat pantai menjadi kotor. Sangat miris sekali, padahal dipinggir pantai ada wisata yaitu Pantai Manuk tapi berubah serem ketika tercampur dengan air kotor dan setelah ditelaah arah air tersebut ternyata dari pabrik semen, sungguh miris. Gumam dalam hati.
Kita pun melanjutkan perjalanan melewati hutan panjang, hujan yang tak henti-hentinya menguyur perjalanan kita mulai masuk ke dalam hutan panjang di sambut dengan suara bintang. Senang dan takut pun bercampur dengan semangat saya untuk segara bertemu Pantai Sawarna. Setengah jam kita melawati hutan panjang, akhirnya dari atas kita melihat pemandangan yang luar biasa dimana desiran ombak menyambut kita untuk segera menikamtinya. Tidak menunggu lama kita langsung cuss menuju penginapan.
Nah Sob, untuk masuk ke Pantai Sawarna kita membayar Rp5000,. Kita menuju penginapan yang sudah dipesan. Pantai Sawarna juga menyediakan tempat penginapan untuk para wisatawan harga yang ditawarkan bervariasi dari harga Rp250.000-Rp700.000K. Sesampainya di penginapan kita langsung menuju Pantai Ciantir dengan dihiasi gelapnya sore itu, hati yang senang tidak tertampung lagi dilampiaskan dengan triak-triakan melepaskan kebahagiaan. Selama perjalanan 8 jam itu akhirnya terbayarkan.
Sore semakin tegelam, gelap malampun datang kita lekas bergegas menuju penginapan untuk mandi, makan, dan istirahat dilanjut esok hari menjelajah ke Tanjung Layar. Malam itu kita berbicang-bicang santai dengan Krue-X mengisi kekosongan malam, tetapi ada hal yang mengejutkan di sela-sela perbincangan malam itu. Ketika Bang Hilal mengeluarkan selembar undang diberikanlah kepada semua Krue-X dan di baca nama siapa yang tertera diatas kertas tersebut.
Serentak bilang.
“Serius nih aa, aa Hilal mau nikah?” ujar Nita yang agak kaget.
“Bener nih aa, mau nikah? Siapa calonnya?” nyambung salah satu Krue-X
“Bener, sama orang Purbalingga, tapi sayang akad nikahnya di Purbalingga,” tutur Bang Hilal sambil tersenyum.
Ketika sedeng asik bercerita tiba-tiba lampu yang berada di dalam kamar terasa bergerak sendiri lama kelamaan semakin besar dan kontan kita bergegas keluar untuk menyelamatkan diri takut tertimpah, serentak langsung beristigfar dan bershlawat. Dengan mimik muka yang ketakutan takut gempa ini menyebabkan tsunami dan kitapun masuk kembali dengan muka yang masih merasa ketakutan. Lanjutlah cerita yang tadi berhenti sejenak.
Pada malam yang di guyur hujan itu kita banyak sekali mendapatkan pelajaran yang didapat oleh Redaktur dari namanya cinta dan motivasi, sehingga terasa malam itu kita bagaikan keluarga kedua yang dimana keluh kesah kita dikeluarkan dan didengar, terasa beban dalam diri merasa tenang. Tak lupa pula, memberikan masukan yang membuat kita merasa keluh kesah kita didengar. Malam yang semakin gelap dan dingin membuat mata ingin merapatkan matanya setelah perjalanan jauh,dan besok kita harus bangun jam 5 pagi agar bertemu dengan sunrise di Tanjung Layar. Akhirnya kitapun terlelap dalam keletihan setelah perjalanan menuju Pantai Sawarna.
Alarm dan Tanjung Layar
“Kukuruyukk..kukuruyukk..kukuruyukk,” suara alarm dari HP Haris.
Dilanjut dengan alarm HP yang lain, serasa pagi itu berkumandang bunyi alarm dengan berbagai suara membuat kita terbangun, setelah dilihat ternyata menunjukan jam setengah lima pagi. Terpaksa dengan mata yang masih mengantuk kita pun bergegas untuk wudhu untuk melaksanakan salat subuh.
Yah, walapun ada sebagian yang bandal meneruskan tidurnya mungkin karena saking capetnya. Ujung-ujungnya kita berangkat jam 5.58 pagi, matahari yang masih tertutup awan kitapun berbangkat menuju Tanjung Layar yang jaraknya lumayan dari villa sekira 15 menit. Udara pagi yang dingin dan desiran ombak Pantai Ciantir menemani jelajah kita menuju ikon Sawarna yang terkenal dan beberapa menit kita berjalan, langsung terlihat karang yang menjulang tinggi mirip dengan namanya Tanjung Layar tak berpikir panjang sayapun langsung mengabadikan moment tersebut.
Sungguh bahagianya hari itu bersama keluarga Krue X-presi sama-sama kita menikmati keindahan Tanjung Layar, sampai kita lupa betapa jauhnya kita berjalan demi sama-sama menikmati alam yang indah ini. Hampir 2 jam kita menikmati karang yang menjulang tinggi disertai ombak yang besar, matahari kian meninggi kita akhiri perjalanan kita di Tanjung Layar ini untuk sarapan pagi lalu bergegas balik menuju Serang.
Rasanya saya kurang puas untuk menyusuri setiap wisata yang ada di Pantai Sawarna ini dan mungkin kapan-kapan kita (Krue X-presi) bisa seperti ini lagi dan kembali sama-sama menjelejahi wisata yang ada di Banten.
0 komentar