Kota Knalpot dan Mendoan




Ada yang tahu di mana pembuatan knalpot terbesar di Indonesia? Atau tahu di mana mendoan berasal? Ya, daerah tersebut berada di Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah. Letaknya yang strategis dan keramahan orang Purbalingga yang membuat kota ini menjadi salah satu tujuan investasi dari negara lain. Letak Kabupaten Purbalingga berada di tengah-tengah Kabupaten Pemalang (sebelah Utara), Kabupaten Banjarnegara (sebelah timur), Kabupaten Banyumas (sebelah Barat) dan di sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Pemalang.

Selain itu, tanahnya yang begitu subur banyak ditumbuhi sayur-sayuran, buah stawberry, dan lain-lainnya. Di sisi kanan dan kiri memandang terhampar luas perkebunan milik warga.
Pagi tiba, aku terbangun saat sekujur tubuh teras dingin tak seperti biasanya. Setelah terbangun baru sadar semalam baru saja mengarungi perjalanan jauh dari Kalideres tujuan Bobot Sari turun di Desa Patemon. Aku mencium aroma yang membuat perut keroncongan. Mata yang sayup memandang ke atas meja yang tak jauh dari tempat aku tidur. Indahnya pagi itu disambut teh manis dan goreng pisang yang disediakan oleh keluarga temanku yang tinggal di atas tanah yang subur di Desa Patemon. Tak hanya itu, mataku disuguhkan panorama alam yang begitu asri, ketika temanku mengajak mandi di sebuah sumber air di desa tersebut, air yang keluar dari sumbernya begitu jernih tak ada kotoran tak seperti di desaku. Saking jernihnya, ikan-ikan yang berenang dapet kulihat dengan jelas.
Ini yang aku suka saat jalan-jalan di daerah Jawa, alamnya yang asri.
Aku pun langsung menjamahi dan menikmati air jernih bersama teman-teman, tubuh langsung menggigil saat sekujur tubuhku basah. Tak hanya diriku yang menggigil, teman-temanku pun begitu. Terlihat gigi mereka yang mulai bergeretak. Walaupun begitu, kami tetap menikmati karena momen ini jarang kita temui di kampung yang sudah tercampur dengan suasana kota dengan polusinya. Kami pun puas-puaskan bermain dengan air sampai akhirnya kami selesai karena memang tubuh yang semakin menggigil.
Kami kembali ke tempat penginapan. Saat aku masuk di penginapan, aku memandang ke atas meja tempat tadi menikmati teh manis dan goreng pisang. Ada gorengan lagi, tapi bentuknya seperti sering aku dijumpai
Saat aku dekati, ternyata mendoan. Pantes saja bentuknya tak asing. Saatku duduk sambil menikmati mendoan, ada salah satu temanku bertanya kepada si Mbah.
“Mbah, Purbalingga makanan khasnya apa?” tanya temanku
“Di sini makanan khasnya ya itu, yang kamu makan, mendoan. Selain itu, ada namanya makanan seroto seperti soto tapi isi dan bumbunya enggak berbeda,” jawab si Mbah.
Ternyata asal-usul mendoan ada di daerah yang sekarang aku singgahi. Aku pun langsung mengingatnya, sekaligus senang bertanya langsung dengan asli pribumi Purbalingga. Di situ aku mendapat pengetahuan dari si Mbah tentang Purbalingga. Dalam pikiranku masih terngiang dan ingat adalah makan khas Purbalingga yang satu ini yakni sroto. Karena malam kami tak ada agenda apa-apa, aku mengusulkan untuk berkeliling di Alun-alun Purbalingg.
“Gimana nanti malam kami berburu kuliner?” usul temanku.
“Setujulah, malam nanti berangkat,” jawab teman-teman.
Kami pun kompak untuk menjelajahi Alun-alun Purbalingga, sekaligus berburu makanan khasnya. Sepertinya menarik untuk dikunjungi.
Malam pun tiba, kabut-kabut mulai menusuk kulitku yang hanya berbalut kemeja kotak-kotak dan celana pendek. Mataku menatap jam, sudah menunjukan ke angka delapan malam lewat. Agenda malam itu kami berkeliling ke Alun-alun Purbalingga sambil mencari makanan khas yang diceritakan si Mbah waktu pagi.
Dari kegelapan terlihat ada kendaraan mobil bermerk Kijang berplat “R” yang menunggu di pinggir jalan. Kami pun satu persatu menaiki mobil dari desa Patemon menuju alun-alun sekitar 20 menit. Beberapa menit mobil berjalan, tak sengaja dari kaca mobil melihat patung orang yang sedang membuat knalpot berwarna keemasan.
“Ki, Ko, ada patung orang yang sedang membuat knalpot?” tanyaku
“Iya Iyoey, di sini pembuatan knalpot segala merk apapun dan terkenal seluruh Indonesia dengan kualitasnya yang baik,” kata Rizky.
Wow, ternyata di Purbalingga tempat pembuatan knalpot segala merk yang dijamin kualitasnya baik dan terkenal di Indonesia. Menurut sejarah, pembuatan knalpot ini dicetuskan oleh seorang kakek berumur 85 tahun bernama Hasan Yusuf mantan pengusaha dangdang berbahan kuningan. Namun, karena ia mengalami musibah yakni mendapatkan kerugian, akhirnya dia beralih membuat knalpot sekitar tahun 1970-an.
Dalam cerita yang aku dapat di artikel, awalnya Pak Hasan menitipkan hasil pembuatan knalpot ke toko penjualan onderdil dengan kerja kerasnya, akhirnya beliau membeli beberapa hektar tanah untuk mendirikan suatu perusahaan pembuatan knalpot di wilayah Kecamatan Bojongsari yaitu Peniron. Dan hebatnya di wilayah tersebut menjadi tempat industri pembuatan knalpot yang dikelolah oleh pribumi.
Luar biasa sekali sehingga dibuatkan patung seorang laki-laki sedang membuat knalpot. Tetapi sepanjang jalan, telingaku jarang mendengar knalpot bising seperti di kampungku. Dan di sini tetap tenang tanpa ada suara knalpot bising. Karena memang kota yang terkenal juga akan keramahan orang-orangnya, jadi satu sama lain saling menghargai.
Tak terasa aku sampai di Alun-alun Purbalingga yang lumayan luas dihiasi kerlap-kerlip lampu dan ramainya warga Purbalingga yang sedang bersantai di pinggir alun-alun.
“Cari makan yuk, lapar nih,” ujarku sambil memandang teman-teman.
“Yuk, cari makanan khas Purbalingga soto sroto aja,” kata temanku
“Setuju,” ucap kami kompak.
Kami mulai pencarian soto sroto yang dibilang oleh si Mbah. Setiap jalan kami jelajahi, di mana penjual soto sroto? Hampir setengah puteran alun-alun sudah kami intip tapi sepertinya malam itu nasib kami belum beruntung. Makanan yang kami cari tidak berjualan di sekitar alun-alun, ketika mencari di google di mana letak penjual sroto tersebut berada. Ternyata, lumayan jauh dari alun-alun.
“Wah boy, kayaknya malam ini kita kurang beruntung deh, tadi saya nanya dengan salah satu tukang dagang di sini. Katanya makanan yang kami cari lumayan jauh,” keluh Lela sambil memasang muka mengkerut.
“Hmm, yasudah makan aja yang ada di sini. Lagian udah laper banget,” jawabku sambil mengelus-ngelus perut.
Akhirnya kami memesan beberapa mangkok sop keong, sepertinya rasanya menarik, harganya pun lumayan murah untuk satu mangkoknya dihargai Rp.10.000,-, tak apalah sekaligus mengobati kekecewan buatku. Lagi pula rasanya tidak mengecewakan. Walaupun masih terbayang soto sroto. Ah, sudahlah


You May Also Like

1 komentar