Jalak Gading #2
Selepas turun dari puncak dan beristirahat sebentar di dalam tenda.
Mereka siap-siap untuk turun membereskan tenda dan peralatan yang berserakan. Gemintang
menenteng panci yang ia pinjamkan warung dekat tendanya itu.
“Ibu, makasih, Bu.
Panci yang dipinjamkan oleh ibu,” Gemintang menyodorkan panci ke ibu berbaju
putih.
“Iyh, sama-sama,
De,” senyum ibu itu. Lanjutnya, “Oh, iyh, mau turun? Hati-hati awanya mulai
mendung, kalau ada apa-apa terus ketemu burung jalak, nanti ikutin aja,” saran
ibu warung kepada Gemintang. Ia mulai penasaran yang dikatakan oleh ibu itu.
“Memang kenapa,
Bu?” tanya Gemintang penasaran.
“Udah ikutin aja,
yasudah ibu mau berberes dulu.” Ibu yang memakai baju lusuh itu
kembali mengoprek tungku api.
Gemintang pun
semakin penasaran apa yang dikatakan oleh ibu itu.
“Kenapa, Gim?”
tanya Kilau heran kepada Gemintang yang seketika berubah saat meninggalkan
warung itu.
“Gpp, ko,”
“Yasudah, kita
beres-beres.”
Gemintang engan
memberi tahu Kilau apa yang tadi ibu warung pesan kepada dia. Langit siang ini
terlihat mendung, sedari tadi Gemintang selalu mengadahkan kepalanya ke langit
seperti ada sesuatu yang disimpan. Mereka terus berjalan turun melewati
bebatuan, dari tempat mereka kemah sampai basecampe sekira tiga jam perjalanan.
“Langit hari ini
sepertinya sedang tidak bersahabat,” ucap Gemintang
“Tidak bersahabat
gimana? Ini hal biasa, ko. Hanya mendung.” Kilau mulai merasa aneh dengan
pertanyaan Gemintang.
Kilau terus
mengajak ngobrol Gemintang agar tidak terjadi sesuatu. Semenjak, turun
Gemintang berubah menjadi aneh seperti menyimpen sesuatu dalam dirinya. Kilau
panik semakin lama gerak-gerik yang Gemintang lakukan terasa aneh. Saat mereka
istirahat, lama kelamaan awan berkumpul di sekitaran semakin lama semakin
tebal.
“Kil, kenapa nih?
Ko, tiba-tiba awan semakin tebal,” Gemintang merasa panik
“Tenang Kil,
pokoknya tetap tenang dan jangan beranjak dari duduk lu,” Kilau mencoba
menenangkan Gemintang.
Peristiwa kabut ini, kembali terulang oleh Kilau saat pendakian bersama temannya. Tidak sengaja Kilau menjegat sahabat dekatnya,
lalu di kabut yang tebal Kilau mendengar teriakan seperti sahabatnya. Mental
Kilau pun melemah, jalan satu-satunya menunggu kabut hilang. Kilau mencoba
tenang. Suasana hening tak ada suara hanya angin yang terus menghempaskan kabut yang tebal ini. Kilau melihat Gemintang, diam tak
berbicara, muka mulai pucat, dan tangannya semakin dingin.
“Gim, bertahanlah,
lu pasti kuat,” Kilau memeluk erat Gemintang
Dua jam sudah,
mereka berdiam diri di dalam kabut yang tebal itu. Kilau masih menyimpan terauma
dengan kabut yang sedang ia rasakan, bila perjalanan ini diteruskan akan
terjadi sesuatu seperti sahabatnya hilang nyawa dalam kabut. Kabut tak kunjung hilang, bahkan mereka pun tak melihat setitik
cahaya matahari yang menembus kabut tebal.
Kilau terus berdoa
dalam hatinya, semoga ada jalan dari kejadian ini. Tak lama kemudian, ada dua
burung hitam, gemuk, paruhnya berwarna kuning, dan sekitar matanya di kelilingi
warna putih. Kedua burung itu hingap di depan Gemintang dan Kilau. Mereka
berdua merasa heran, sebab kabut yang tebal ini mata mereka pun tak bisa tembus
melihat ke luar dari kabut tebal ini.
“Gim, ko, burung ini
bisa menebus kabut yang tebal ini,” Kilau heran sambil memperhatikan kedua
burung itu.
“Ngggk tahu, Kil,
sepertinya gue merasakan ada keanehan saat ini,” ungkap Gemintang merasa ada
keganjalan dalam hatinya.
Burung itu semakin
mendekat, sepertinya kedua burung tidak mengetahui keberadaan mereka berdua tapi
meragukan semakin dekat burung itu mematuk ujung sepatu yang dipakai oleh Kilau.
Mereka pun heran perilaku kedua burung tersebut, seperti memberi pesan kepada
mereka berdua.
“Gim, kedua burung
ini semakin lama perilakuknya seperti ingin memberikan kita sebuah pesan tapi
apa, yah,” Kilau mencoba menafsirkan pesan yang patukan dari burung tersebut.
Gemintang masih
terngiang perkataan ibu warung tadi tentang burung yang bakal di temui oleh
mereka.
“Kil, tahu ini
burung apa?”
“Dalam keadaan
seperti ini tak ada pertanyaan lain,”
“Gue, serius, Kil”
Kilau merasa kaget
di bentak oleh Gemintang.
“Oke, ini burung
Jalak,”
Gemintang berdiri
dan berjalan mendakati kedua burung jalak. Saat mendekati burung jalak itu terbang
dan mendarat lagi tidak jauh dari tempat semula. Kilau mencoba menahan
Gemintang agar tidak mengikuti burung
tersebut.
Bahu gemintang di
tahan oleh Kilau.
“Jangan, ikuti
burung itu,” kata Kilau lirih. Gemintang melepaskan tangan Kilau yang hinggap
di bahunya, “Sudah ikutin, gue. Nanti juga lu tahu,” Gemintang menoleh ke arah
Kilau untuk menyakinkannya. Rasa khawatir yang kini Kilau rasakan. Trauma ini
muncul kembali semenjak pristiwa yang menewaskan tetehnya.
Kini, malah Kilau berubah
menjadi penakut. Sedangkan Gemintang berubah menjadi pemberani. Ia terus
mengikuti Burung Jalak itu. Perlahan mereka menerobos kabut tebal, jalur
berbatu membuat langkahnya lamban. Jalur mulai menurun. Tiba di belokan menurun
ada seorang pendaki memakai jaket tebal berwarna kuning lalu bergaris hitam dan memakai kupluk berwarna abu-abu, mukanya pucat
seperti orang kedinginan.
Saat menyapa
pendaki tersebut. Pendaki tersebut tiba-tiba menyapa mereka.
“Iyh, betul.
Ikutin saja burung itu,” tanpa rasa aneh pada pendaki tersebut, mereka berhenti
sejenak di hadapan pendaki tersebut.
“Abang, nggak ikut
turun bareng, kabut semakin tebal lho.” Ucap Gemintang
“Iyah, duluan
saja, saya tunggu di sini, nunggu ada yang datang.” Kata pendaki tersebut.
Kilau
memandang jaket tersebut, seperti mengenal jaket yang dipakai oleh pendaki
tersebut. Kilau pun semakin takut dan mencoba mengingat jaket tersebut
Kilau merasakan keanehan saat bertemu pendaki
tersebut. Mata pendaki itu terus menatap ke arah Kilau. Mereka terus berjalan perlahan
menjauhi kabut. Kilau yang masih penasaran dengan pendaki tadi, mencoba menengok
kea rah pendaki yang duduk di pinggir jalur pendakian. Saat menoleh seketika
pendaki itu menghilang. Kilau semakin ketakutan. Perasaan tadi ada di situ. Gumam Kilau dalam hati yang sedang ketakutan.
“Gim, ko, pendaki
tadi menghilang, yah.”
“Masa? Mungkin
tertutup kabut kali,”
Gemintang mencoba meredam
ketakutannya. Padahal mah, Gemintang merasakan keanehan yang tadi barusan
terjadi.
Jalur mulai
landai. Burung jalak itu terus menujukan jalan. Perlahan cahaya matahari
menerobos kabut tebal yang perlahan mulai pudar. Mereka pun bergegas terus burung
jalak itu. setibanya di pos 3, kabut itu mulai menghilang dari pandangan mata
mereka. Pandanganya kembali semula.
Mereka pun duduk
beristirahat di gubuk lusuh dan bolong-bolong di bagian atapnya. Mereka duduk
di depannya.
“Alhamdulilah,
kita selamat, Kil,” tanya Geminta sambil menyenderkan tubuhnya.
“Iyah, Gim. Berapa
jam lagi kita turun,” Gemintang langsung melihat jam di lengannya sebelah
kanan. “Yah, sekira sejam lagi.” Nada rendah yang keluar dari suaranya.
Gemintang
tiba-tiba tampak heran mencari sesuatu.
“Kil, tadi lihat
burung jalak pergi kemana?” tanyanya heran sambil mencari burung Jalak itu di
sekitaran gubuk.
“Wah, nggak tahu
tuh. Emang kenapa?”
“Gue, belum bilang
terimakasih sama burungnya.”
***
Keesokannya,
setibanya mereka di rumah. Kilau mencoba membuka album foto yang ada di laptopnya.
Tak sengaja di slide akhir, Kilau berhenti dan menelaah foto bareng dengan
temannya berjejeran. Lalu melihat ada orang yang memakai jaket percis apa yang
dilihat kemarin turun dari gunung Lawu, ternyata jaket yang dipakai oleh
pendaki yang berpapasan denganya di kabut tebal adalah temannya. Seketika Kilau
kaget dan menjadi takut
“Ternyata
dia ...” ucapnya pelan dengan bergemetaran.

0 komentar